Arsip Kategori: Otomotif

Panduan Konversi Kategori SIM Indonesia ke SIM Internasional

Setelah saya posting mengenai list negara-negara dimana SIM Internasional Indonesia berlaku, banyak yang kirim e-mail ke saya tentang serba-serbi SIM Internasional ataupun validasi sim domestik Indonesia di negara lain, yang tidak mungkin bisa saya jawab sepenuhnya karena saya belum pernah mengunjungi semua negara, dan sekalipun saya kunjungi suatu negara, saya tidak selalu menyetir, karena itu opsi yang paling mahal. Tapi ada pertanyaan yang cukup menarik, seperti:

  • Kenapa saat saya buat SIM Internasional untuk mobil, dari SIM A kok jadi SIM B di SIM Internasional?
  • Saya bikin SIM Internasional untuk motor kok kategori di SIM Internasional jadi SIM A?
  • Saya pengen bawa heavy truck di Amerika, pakainya SIM Kategori apa?
  • Saya pengen kaya keluarga Halilintar yang bisa sewa mobil bus tapi kategori apa yang diperlukan supaya bisa nyetir bis/van di luar negeri?

Sebenarnya beberapa pertanyaan tersebut bisa dijawab hanya dengan melihat SIM Internasional kalian, semua penjelasan-nya ada di situ.

Tapi ya sudah daripada saya jawab satu-satu, lebih baik saya jelaskan ulang di sini, itu juga kalau kalian mau baca :p

Lanjutkan membaca Panduan Konversi Kategori SIM Indonesia ke SIM Internasional

Perlukah SIM Seumur Hidup?

Saya mendengar, ada salah satu partai yang menjanjikan pemberlakuan SIM seumur hidup jika terpilih. Tentu saja ini menuai pro dan kontra, banyak komentar mengenai pemberlakuan SIM seumur hidup ini, bahkan tidak sedikit mencaci maki kebijakan ini. Sebenarnya perlukah SIM seumur hidup diberlakukan di Indonesia?

Sebelumnya kita lihat apa alasan partai tersebut hendak memberlakukan SIM seumur hidup, partai tersebut berpendapat bahwa perpanjangan SIM merepotkan rakyat dan mengurangi beban biaya masyarakat. Oke, maka dari itu, mari kita bahas bagaimana pembuatan SIM di Indonesia saat ini.

Lanjutkan membaca Perlukah SIM Seumur Hidup?

Alasan SIM Indonesia Tidak Berlaku di Jepang

Pada postingan sebelumnya, saya pernah membahas tentang di negara mana saja SIM Internasional Indonesia berlaku. Menurut pengalaman saya, Jepang menolak baik SIM Indonesia ataupun SIM Internasional saya. Saat itu saya tidak bertanya alasannya, karena toh berkendara di Jepang bukan hal yang menyenangkan, transportasi publik di negara tersebut cukup bagus, baik dalam kota maupun antar kota.

Hingga saat saya berkunjung kembali ke negeri Sakura, saya menyempatkan diri untuk bertanya mengenai hal ini, ternyata aturannya cukup simpel, agar orang asing bisa mengemudikan kendaraan di Jepang dengan legal, ada tiga pilihan, yaitu

Lanjutkan membaca Alasan SIM Indonesia Tidak Berlaku di Jepang

Honda PCX Hybrid tanpa EV Mode

Akhirnya PT. Astra Honda Motor meluncurkan Honda PCX Hybrid, tentunya ini kabar gembira untuk pecinta kendaraan listrik seperti saya. BEV atau Battery Electric Vehicle sendiri sampai saat ini belum bisa mengaspal dengan mudah di Indonesia mengingat ketertinggalan keterbatasan infrastruktur di Indonesia, maka dari itu kendaraan hybrid adalah solusi sementara sampai infrastruktur untuk kendaraan listrik siap walaupun skema pajaknya masih belum mendukung.

Sudah banyak vlogger otomotif membahas tentang skuter bongsor ini, dan menurut saya, hampir tidak ada perbedaan dengan PCX non-hybrid, perbedaan hanya terdapat baterai lithium dan terdapat indikator kapasitas baterai lithium di instrument cluster.

Lanjutkan membaca Honda PCX Hybrid tanpa EV Mode

Pengalaman isi bensin di Shell

Beberapa hari yang lalu, saya mengisi bensin mobil di Shell Jalan Sukarno Hatta. Setelah parkir kendaraan di samping pompa bensin, saya keluar dan disapa oleh seseorang trainee, dengan sopan dia menawarkan untuk mengisi bensin oktan 95, saya menolak dan menyuruhnya isi full dengan bensin super, lalu saya tinggalkan mobil menuju minimarket yang ada di tempat itu untuk membeli beberapa makanan. Dari dalam minimarket saya melihat beberapa petugas membawa pasir ke sekitar mobil saya, saat kembali ternyata handle bensin terjatuh setelah penuh dan membuat beberapa liter bensin tercecer di tanah. Saya memaklumi, dan memberikan uang ke petugas yang sedang disana, namun dia yang ternyata supervisor menolak uang saya, katanya saya mendapat bensin gratis karena kecelakaan kecil tadi. Ya, itu hari yang beruntung ;)

Seharusnya pertamina belajar dari pom bensin yang satu ini.

Premium, bensin untuk mereka yang tidak mampu, siapa?

Premium hanya untuk golongan tidak mampu

Pernah lihat tulisan diatas? Atau pernah lihat spanduk di SPBU Pertamina dengan nada yang sama ? Ya, itu semua adalah propaganda Pertamina yang secara halus menggiring masyarakat untuk berpindah menggunakan BBM-Non Subsidi(Pertamax, Pertamax+).

Ya, kali ini saya ingin berbicara mengenai bensin subsidi dan non subsidi.

Tentunya anda sudah mengerti seperti apa BBM bersubsidi dan non subsidi itu kan? Sepertinya pemerintah kita ini mulai membatasi penggunaan BBM bersubsidi karena dinilai belum tepat sasaran, untuk statement ini saya masih setuju, tinggal bagaimana solusinya? Pemerintah tampaknya sudah memutar otak, hingga akhirnya keluar beberapa wacana, berikut beberapa wacana tersebut

Sepeda motor wajib menggunakan BBM Non Subsidi, wacana ini sudah lama, dan tidak berhasil dikarenakan banyak pengguna sepeda motor merasa keberatan dengan harga BBM non subsidi yang bisa dibilang dua kali lipat BBM bersubsidi. Yasudah :)

Ada lagi, Mobil diatas tahun 2005 tidak boleh pake premium, berarti untuk mobil yang dibawah tahun 2005 boleh pake premium, alasannya pemilik mobil diatas tahun 2005 sanggup beli pertamax, itu teorinya, kenyataannya, masih banyak mobil diatas tahun 2005 terutama mobil sejuta umat masih menggunakan premium kok, karena mayoritas dari mereka harus menabung lebih untuk membayar cicilan kendaraanya :p terlebih lagi tipikal kendaraan keluarga Indonesia “Bisa muat banyak, isi bensin, injek gas, langsung maju“. Oke, wacana yang ini juga dikatakan tidak berhasil.

Bahkan sempat ada kasus beberapa kendaraan yang Fuel Pump-nya jebol karena penggunaan BBM bersubsidi itu, siapa yang disalahkan? Silahkan Googling itu berita lama kok :D

Sampai akhirnya keluarlah spanduk sakti di setiap SPBU bertuliskan “Premium untuk Golongan Tidak Mampu,” :D yang jadi masalahnya, Siapa yang tidak mampu itu? Siapa yang menjadi kaum dhuafa dalam kasus ini? Seperti apa golongan tidak mampu itu? Rancu juga menentukan si “mampu” dan “tidak mampu” itu

Oke, katakanlah, BBM bersubsidi ini diperuntukan untuk angkutan umum dan sepeda motor, kenapa tidak dibuat saja SPBU khusus untuk kendaraan umum dan sepeda motor saja? Mobil pribadi dan lainnya, silakan gunakan SPBU biasa yang hanya menjual BBM Non Subsidi.

Atau kenapa tidak sekalian hilangkan saja yang namanya Subsidi BBM, alihkan ke sektor lain, pendidikan misalnya? Walau yang ini saya masih pesimis, Subsidi BBM hilang, pendidikan masih mahal, jalanan masih rusak.

Selamat Datang di Indonesia, negara dimana terdapat bensin orang kaya dan bensin orang miskin :D

#7DayswithMarch 7: Review Nissan March

Akhirnya, tidak terasa juga, sudah hari ke 7 sudah saatnya Nissan March ini kembali ke Dealer

Di hari ke tujuh ini saya tidak melakukan perjalanan kesana kemari, sudah saatnya istirahat :p

Tapi disini saya akan coba memberikan sedikit review dari Nissan March kendaraan yang sakti mandraguna ini :)

Engine

100_8937

Mobil ini berdimensi mungil, bisa dibilang dia sedikit lebih kecil dari si Siswanto milik saya, atau lebih tepat ukurannya lebih mirip dengan Toyota Starlet kapsul, depan pendek, belakang pendek buntet :p . Dibekali dengan mesin 1.200 cc 3 silinder DOHC injection, penilaian saya bisa cukup responsif walaupun transmisinya automatic, ukuran mesinnya saya rasa cukup kompak, cuma kok saat dibuka kap depannya terkesan penuh ya? Apa karena memang dimensi kendaraanya kecil sehingga ruang untuk mesin di buat pas-pasan? Mungkin saja di generasi berikutnya penempatan mesin HR12DE DOHC 12 Valve ini lebih rapi.

Lanjutkan membaca #7DayswithMarch 7: Review Nissan March

#7DayswithMarch 6: Nissan March dan Jalan Tol

18 Agustus

Akhirnya, bosan juga saya mbawa Nissan March ini keliling Jakarta dan Bogor melewati jalan raya (dan jalan tikus), saya cukup bingung, sebaiknya bawa jalan-jalan kemana lagi Nissan March ini sebelum dikembalikan ke dealer-nya lagi :)) Akhirnya hari ini saya coba test drive Nissan March ini ke jalan bebas hambatan(a.k.a jalan tol).

Saya berangkat dari rumah menuju Jalan Raya Parung -Bogor, sialnya di pertigaan saya mengalami kemacetan, angkot dan bis yang sembarangan ngetem, lanjut ke Jalan Padjadjaran, tidak seperti biasanya, jalanan disini tidak begitu macet, paling hanya sedikit padat karena banyaknya angkot yang seliweran di sekitar ruas jalan, setelah itu saya meninggalkan Jalan Padjadjaran menuju Jalan Tajur, disini panasnya mulai ajegile, sehingga terpaksa saya set blower AC ke level 2, sesampainya di Jalan Raya Tajur, saya terus melaju ke arah Puncak, tapi tujuan kali ini saya tidak ke Puncak, melainkan memasuki Tol Jagorawi :D
Need for Speed: Jagorawi

Oke, sesampainya di gerbang tol saya istirahat sebentar, mendinginkan mesin mobil, cek air radiator, oli rem, oli power steering, dan tekanan ban(sempat berkurang, untung ada tukang tambah angin di sekitaran Ciawi)

Ini salah satu kesalahan saya, biasanya saya cek ini itu saat masih di rumah, tapi saya kok lupa kali ini ya, untungnya saya ingat dan melakukan pemeriksaan sebelum masuk tol. TIPS: Lain kali periksa air radiator, oli rem, oli power steering, tekanan ban, dan perlengkapan keamanan sebelum berkendara :)

Head Unit saya aktifkan dengan lagu OST Need For Speed Underground 2 dan saya mulai nge-gas (nyaris) mentok di Tol Jagorawi, dan si Nissan March ini berlari sesuai dengan keinginan saya menyentuh angka 140Km/jam, getaran pada kabin belum begitu terasa, masih bisa dibilang normal, hanya saja, rekan saya yang mengikuti dari belakang(ya, saya berjalan 2 mobil) memberitahu bahwa mesin meraung-raung seperti merasakan kesakitan yang luar biasa karena pedal gas saya injak agak dalam,oke, cukup dengan tes kecepatannya, tidak lama kemudian saya mengurangi kecepatan dan menahan speed  di 80km/h kembali ke style eco-drive tentunya ;)

Lepas Jagorawi, memasuki Lingkar Luar dan Jakarta – Cikampek, speed yang saya ambil bertahan di 80km/jam, tidak masalah saat berada di Jalan Tol Lingkar Luar karena notabene pengemudi di Jalan Tol Lingkar Luar itu masih bisa dibilang sopan, dan Nissan March ini juga berjalan smooth atau bahasa sundanya ngagorolong, cuma entah kenapa saat memasuki Jalan Tol Jakarta – Cikampek, Nissan March ini terasa gradak-gruduk? Mungkinkah karena suspensi belakang Nissan March ini masih menggunkan Torsion Beam? Bisa jadi.. Tapi enaknya, saat bertemu dengan jalan tol yang agak berkelok-kelok, Nissan March ini ga limbung saat ngebut di tikungan, ini semua berkat suspensi depan yang sudah menggunakan sistem McPherson ;)

Soal Tenaga Saat di Jalan Tol Bagaimana? Untuk jalan datar, saya kira tidak ada masalah untuk kendaraan bertransmisi 4 Speed A/T ini, walau akselerasi agak sedikit lambat dan saat menemui tanjakan Nissan March ini agak sedikit terengah-engah tenaganya, saya kira ini wajar, ga bisa disamakan dengan yang bertransmisi manual.

Setelah keluar Cawang, saya kembali masuk tol dan keluar di Pondok Indah untuk kembali ke rumah, seperti biasa, saya mengalami kemacetan :p

Somewhere in Lebak Bulus

Sialnya, saya tidak sempat berbuka puasa di rumah, sehingga mau tidak mau saya harus singgah dulu di rumah makan, dan pilihan saya jatuh ke restoran siap saji ala jepang, lumayan untuk mengusir lapar dan lelah setelah test drive mobil ciamik ini di Jalan Tol. Alhamdulillah yah..

Confused Driver

#7DayswithMarch 5: Berkeliling Jakarta dengan Nissan March

17 Agustus

Ya, hari ini adalah hari Ulang Tahun Republik Indonesia dengan kata lain, hari ini libur :D

Saatnya libur berarti saatnya jalan-jalan? Ya kan? Tentunya dengan kendaraan sakti mandraguna ini :D Namanya juga dipinjamkan selama 7 hari, sayang kalau tidak digunakan, maka dari itu, Nissan March ini saya bawa kemana-mana, dimulai dari nganter bapak ke kantor sampai nganter emak belanja ke pasar Ciawi :))

Sebenarnya, hari ini jadwal agak sedikit bentrok bin ga karuan, tadinya saya hendak mengajak Ridu berkeliling Jakarta, tapi saya ditelepon oleh keluarga saya untuk segera berangkat menuju Tanjung Priok karena ada lomba makan kerupuk, acara selametan rumah barunya, yowes, mau bagaimana, acara keluarga sangat tidak bisa ditolak, saya memilih berangkat bersama keluarga, ditemani mobil bermesin HR12DE DOHC 12 Valve ini.

Perjalanan ke dari Parung ke Tanjung Priok memang sangat menyita waktu, atau lebih tepatnya jauh ;) kami berjalan dari Parung – Sawangan lancar jaya, mulai memasuki Pondok Cabe arus lalu lintas mulai padat, saya belum terlalu biasa dengan hal ini, dimana saya kelamaan tinggal di Bandung yang notabene macetnya ga separah di Jakarta, tapi ya dengan Nissan March ini saya merasa nyaman, kursinya yang berjenis reclining seat ini cukup nyaman, bahkan kursi bagian pengemudi dilengkapi dengan seat lifter, sayangnya kenapa pihak Nissan tidak memberikan seat lifter di sisi samping pengemudinya juga ya? Tapi sudahlah, ini juga sudah cukup nyaman kok ;)

Sesampainya di Lebak Bulus, saya mulai masuk tol menuju Tanjung Priok, sialnya, keenakan berkendara dengan mobil sakti mandraguna ini membuat saya salah keluar pintu tol, dan saya tidak tahu ini dimana :))

Somewhere in Tanjung Priok

Akhirnya putar sana, putar sini, masuk gang sana masuk gang sini saya sampai juga di jalan Swasembada, Jakarta Utara

 

Selesai bersilaturahmi dengan keluarga, ibu saya berencana untuk ke Asemka, biasalah, ibu-ibu centil ingin beli ini itu, mulai memasuki daerah kota tua, udara panas mulai mendera kabin mobil, hebatnya Nissan March ini cukup arahkan blower ke level satu sudah dapat mendinginkan satu ruangan tersebut, entah ini mobil masih baru atau memang kendaraan ini ACnya cukup dingin, saya tidak tahu pastinya, tapi yang jelas AC dari Nissan March ini dinginnya puoll banget deh. Sayangnya tipe yang saya terima ini masih menggunakan AC Manual, belum automatic layaknya mid-class sedan lainnya.

Selesai dengan urusan pernak-pernik di Asemka, tadinya saya ingin ngadem dulu di Museum Bank Indonesia, sudah cukup lama tidak bermain ke sana lagi, tapi sayangnya museum tersebut tutup :( So, akhirnya mau tidak mau harus kembali pulang ke rumah

Dan iseng-iseng ibu saya ingin ikut nampang dengan Nissan March pinjeman. :p

Lepas dari kota tua, kami langsung pulang, lelah sekali ngukur Jakarta kali ini.

Alunan lagu Yovie & Nuno ditemani dengan dinginnya AC Nissan March mengantarku pulang

Aku hancur ku terluka
Namun engkaulah nafasku
Kau cintaku meski aku
Bukan dibenakmu lagi
Dan kuberuntung sempat memilikimu