Isih penak jamanku toh – Russian version

Note: Sebenarnya ini kejadian beberapa bulan yang lalu, hanya saja, saya selalu lupa untuk menuliskannya, baik di blog ataupun catatan sendiri.

Saat itu, saya beserta teman Arab saya pergi ke supermarket untuk belanja sembako, maklum, saya memang sering nginep di apartemenny, karena sudah kemaleman, akhirnya kita putuskan untuk menyewa taksi, menggunakan layanan RUTaxi (semacam Uber versi Rusia).

Selang beberapa menit kemudian, muncul notifikasi dari RUTaxi yang kurang lebih berbunyi

Continue reading Isih penak jamanku toh – Russian version

Pergantian paspor di KBRI Moskow

Paspor saya akan habis masa berlakunya di bulan April 2016 (yak tahun ini), visa saya habis bulan ini dan tidak bisa diperpanjang oleh pihak imigrasi Rusia, karena mewajibkan saya untuk mengganti paspor terlebih dahulu, mau tidak mau saya harus mengganti paspor tersebut, ada dua cara bagaimana mengganti (dulu namanya memperpanjang ) paspor. Pertama, datang ke kantor imigrasi terdekat di Indonesia. Kedua, datang ke perwakilan Indonesia di Luar Negeri, dalam hal ini karena saya sedang tidak berada di Tanah Air tercinta, maka saya putuskan untuk melakukan pergantian paspor di Kedutaan Besar Republik Indonesia Moskow. Berikut adalah pengalaman saya dalam pergantian paspor RI.

Continue reading Pergantian paspor di KBRI Moskow

Prosedur Legalisasi Ijazah di Kementerian Luar Negeri

Setelah selesai urusan legalisasi dengan Kementerian Hukum dan HAM, langkah selanjutnya adalah proses legalisasi ijazah di Kementerian Luar Negeri, menurut saya, legalisasi ijazah di Kementerian Luar Negeri jauh lebih gampang dibandingkan dengan legalisasi di Kementerian Hukum dan HAM, berikut syarat yang diperlukan:

Continue reading Prosedur Legalisasi Ijazah di Kementerian Luar Negeri

Mudahnya Legalisasi Ijazah di Kementerian Hukum dan HAM

Berhubung kampus saya memerlukan legalisasi ijazah dari negara asal saya, dan sialnya saya tidak mengerjakan ini tahun lalu, sehingga mau tidak mau tahun ini harus dikerjakan. Setelah cari sana sini, akhirnya saya menemukan prosedur legalisasi ijazah di Indonesia, yaitu harus melalui beberapa tahapan, yaitu:

Continue reading Mudahnya Legalisasi Ijazah di Kementerian Hukum dan HAM

Bahasa Indonesia dalam Perangkat Lunak

Tinggal di tempat baru, tentunya aktivitas penggunaan komputer saya masih seperti dulu, mengerjakan tugas, menjelajah laman-web, dan membaca e-mail. Hanya saja, di sini, saat menggunakan komputer kampus, saya harus berhadapan dengan komputer berbahasa Rusia, ya, semua berbahasa Rusia, dari antarmuka sistem operasi, hingga perintah formula dalam Microsoft Excel-pun disesuaikan dalam bahasa Rusia 😀

Pertanyaanya, butuh berapa lama adaptasi dari kebiasaan kita, orang Indonesia yang notabene biasa menggunakan komputer berbahasa Inggris menggunakan komputer dengan Bahasa Rusia, berhubung saya sudah mengetahui bahasanya, adaptasi yang saya alami hanya sekitar 1 bulan, dan sekarang saya sudah cukup lancar mengoperasikan komputer dengan bahasa setempat.

Tentunya notebook pribadi saya saat itu masih dalam kondisi default, bahasa Inggris, dan yang membuat saya penasaran adalah, saat saya melihat notebook teman saya yang berasal dari Turki, Syria, dan beberapa negara lainnya, mereka menggunakan bahasa setempat( ex Bahasa Turki, Bahasa Arab, dll).

Seperti yang kita tahu, masalah orang Indonesia tidak mau menggunakan Bahasa Indonesia dalam perangkatnya adalah, bingung dengan kosa kata yang sudah diterjemahkan, mereka bilang bahwa kata tersebut, terasa terlalu baku, ganjil dan lain sebagainya. Saya terakhir kali mencoba antarmuka bahasa Indonesia kalau gak salah saat saya menggunakan Windows XP, saat itu saya install LIP versi Bahasa Indonesia.

So, akhirnya saya mencoba untuk menggunakan Bahasa Indonesia dalam notebook saya, berhubung notebook saya menggunakan Windows 7 Stater, saya tidak bisa mengganti bahasa sistem, dan akhirnya saya coba untuk mengganti bahasa Office 2010 saya ke Bahasa Indonesia.

Word bahasa Indonesia

Saya coba bekerja menggunakan Word dalam Bahasa Indonesia, dan hasilnya? Sama sekali tidak ada masalah, saya bisa mengatur paragraf dan penyetelan halaman, mengatur kop dan catatan kaki, dan lain-lain.

Jadi buat saya, selagi Bahasa Indonesia bisa eksis di dunia IT, kenapa kita sebagai orang Indonesia harus malu atau bingung menggunakannya? 🙂

Akhir dari kartu XL Prabayar

SIM Card XL

Semenjak pindah, saya selalu berusaha untuk memberi makan kartu prabayar XL saya dengan pulsa seadanya, bukan untuk dipakai, tapi saya hanya mempertahankan nomor yang menurut saya sudah sangat cantik. Interval pengisian pulsa pun tidak sering, sekitar sebulan sekali, hanya saja, sangat disayangkan adalah XL tidak menampilkan masa tenggang dari kartu saya, ya, hanya masa aktif yang tampil pada saat cek pulsa, sehingga saat melewati masa aktif, saya tidak tahu kapan kartu tersebut akan hangus.

Dan entah mengapa, kartu saya tiba-tiba hangus (lenyap beserta pulsa yang hampir sebesar 250ribu), Ya sudahlah, komplain via twitter juga tidak akan membantu 😀

So, selamat tinggal kartu XL yang sudah menemati saya selama 5 tahun lebih 🙁

Hampir lupa, beberapa provider (mungkin termasuk XL?) akan mendaur ulang nomor lamanya, so, bisa dipastikan nomor saya yang berakhiran xxx14.14.9 sudah bukan milik saya lagi.

 

Klarifikasi mengenai nama saya di situs “Konfrontasi”

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat info dari teman saya yang mengatakan bahwa ada nama saya tercatut dalam sebuah artikel, dimana artikel tersebut sedang dipermasalahkan baik kalangan PERMIRA maupun pihak KBRI Moskow, tentunya saya penasaran, berikut tautan artikel tersebut.

Setelah saya baca artikel tersebut, ditemukan nama saya dalam artikel tersebut, dan inilah yang mereka tulis:

Yanuar dan Ridwan adalah anak bangsa yang direkomendasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), bersama Anggie Soekarno dan  rekan-rekan lainnya.

Baiklah, di luar dari isi berita tersebut saya ingin klarifikasi beberapa hal:

  1. Saat masih di Indonesia saya memang pernah mengurus surat rekomendasi belajar di Luar Negeri dari Pengurus Besar Nahtadul Ulama, itu benar adanya.
  2. Mengenai pencatutan nama saya di artikel tersebut, tidak pernah ada izin dari saya, bahkan di artikel tersebut penulis menggunakan nama dari akun Facebook saya, bukan nama asli saya, dan saya tinggal di Penza, bukan di Voronezh.
  3. Karena tidak ada konfirmasi sebelumnya, saya tidak pernah merasa diwawancara, ataupun berkontribusi dalam artikel tersebut. Jadi, tulisan tersebut di luar pengetahuan saya.

Jadi, jangan tanya saya lagi mengenai isi dari artikel tersebut,

Terima kasih 🙂

————

Opini pribadi: Saya kurang setuju dengan tulisan tersebut, baik dalam tata bahasa, penggunaan foto tanpa izin, maupun isi dari artikel tersebut yang justru membuat citra mahasiswa Indonesia di Rusia terlihat buruk.

Blokir sana, blokir sini

Media sosial macam Twitter dan Facebook merupakan alat bantu bagi saya untuk dapat mengetahui trend ataupun isu apa yang sedang naik daun di Indonesia, dan kebetulan yang sedang di bahas belakangan ini adalah urusan pemblokiran situs tertentu yang dianggap terkait dengan radikalisme.

Seperti biasa banyak pengguna sosial media menanggapi hal ini, sampai-sampai ada yang sempat bilang bahwa pemerintah anti islam 😀 awalnya saya menahan diri untuk tidak berkomentar apapun tentang ini, tapi akhirnya bablas ikut komentar juga deh 🙂

Saya secara pribadi berpendapat bahwa tidak ada gunanya melakukan pemblokiran, mau situs islam dengan alasan radikalisme(?) atau  situs porno dengan alasan merusak moral (?), mungkin nanti akan ada pemblokiran untuk situs yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia, misalnya? 🙂

Lagipula, untuk melewati pemblokiran itu bukan cara yang susah, ada banyak proxy untuk melewati pemblokiran di Indonesia, di Internet bertebaran cara untuk melakukan itu.

Saya melihat list situs-situs yang di blokir kominfo, beberapa diantaranya yang saya tau pernah menyebar berita kebencian terhadap pemerintah saat ini, tapi apa itu pantas di blokir? Tidak, toh  saya juga tidak terpengaruh terhadap tulisan yang ada di situs-situs tersebut.

Solusi menurut saya tentunya pendidikan terhadap akses Internet dan perbanyak konten positif jauh lebih baik daripada blokir-memblokir ini.

 

Roaming Nasional

Pernah dengar kata Roaming? Roaming telepon seluler, istilah ini sudah cukup usang di kalangan orang Indonesia, saya sendiri terakhir dengar istilah ini sekitar tahun 2002-an(?), di mana kartu GSM saya saat itu sudah  bebas roaming nasional.

Pindah ke Rusia, membuat saya kembali stress dengan istilah roaming ini, saya pikir istilah ini sudah tidak berlaku, meski pun tahun 2007an, terutama saat perjalanan saya ke Moskow beberapa hari ini, setiap menerima telepon dari siapapun, pulsa saya tersedot habis 🙁 tentunya tarif telepon pun berbeda, lebih mahal dari kota tempat saya tinggal. :/

… Dan yang lebih parah lagi, koneksi internet modem 4G  saya tidak bisa dipakai, karena berada di luar region tempat saya tinggal.

Cih! apalah guna 4G tapi masih ada roaming nasional

Крещение

Крещение
Gambar diambil dari http://sehmet.ru/zagovory-obryady-ritualy-na-kreshhenie/

Крещение (Kresheniye) dalam bahasa Indonesia bisa diartikan pembaptisan atau mensucikan diri dengan cara berendam di sungai pada musim dingin, ritual ini merupakan tradisi kristen ortodoks. di Rusia,  tradisi ini dilaksanakan pada tanggal 19 – 21 Januari setiap tahun, itu berarti saat negara ini sedang memasuki musim dingin.

Bagi saya sendiri tidak ada yang istimewa dengan ritual ini selain keberanian orang berendam di sungai dengan suhu air berkisar antara -5°C sampai -25°C.

Hanya saja, secara mendadak dosen saya mengajak saya dan Fris untuk melihat langsung tradisi ini, tentunya tawaran ini sulit untuk saya tolak 😀 .

Sekitar pukul 4 sore kami di jemput di sekitar Teater kota Penza, kami di bawa sampai ke pinggiran kota Penza, dan melihat sungai yang tentunya sudah membeku, disana ada beberapa orang mulai ‘mengantri’ untuk melakukan ritual ini. Dan saya cukup kagum (dan kaget) melihat mulai dari orang tua hingga anak-anak asik bermain dengan air yang saat itu bersuhu -15°C.

Ilustrasi, gambar di ambil dari http://drugoi.livejournal.com/3806500.html

Saya pun sempat diajak untuk ikut masuk ke air, sayangnya karena mereka mengajak saya secara mendadak, maka saya tidak membawa persiapan, seperti baju ganti dan lain-lain.

Lalu bagaimana tata cara melakukan ritual ini? Itulah pertanyaan yang saya ajukan ke dosen yang mengajak saya, ternyata tidak terlalu rumit, walau mungkin diperlukan niat yang tulus, mental yang kuat, dan fisik yang sehat tentunya.

Dia menjelaskan, pertama-tama harus berdoa sebelum masuk ke air, lalu secara perlahan masuk ke air, sambil terus memanjatkan doa, lalu masukkan kepala ke air secara tiga kali berturut turut, dan kembali ke atas air, sudah 😀

Saya pikir bakalan lama di air ternyata cuma 5-10 menit :p

Lalu bagaimana perasaan mereka setelah melakukan ritual ini? Mereka berkata, saat di dalam air, mereka merasakan kehangatan dan setelah itu merasa badan lebih segar. (meskipun aneh, tapi itulah mereka dengan kepercayaannya yang seperti itu).

PS: Sialnya, undangan menghadiri ritual ini dadakan, sehingga saya tidak sempat membawa perlengkapan, dan dokumentasi yang berhasil saya ambil hanyalah foto yang diambil dari kamera dosen saya. 🙁

спутник
Akhirnya bisa ambil foto, walaupun sudah tidak ada orang

Nothing But Anything