Arsip Kategori: Linguistik

Asal Mula Istilah “Hidung Belang”

Seperti yang sudah kita ketahui, sebutan pria hidung belang memiliki konotasi yang cukup negatif, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia hidung belang memiliki arti: Laki-laki yang gemar mempermainkan perempuan. Perlu diketahui, istilah ini benar-benar mengacu pada hidung seorang Belanda yang dicoreng arang sehingga tampak belang, berikut kisahnya.

Lanjutkan membaca Asal Mula Istilah “Hidung Belang”

Tentang Kekayaan Nama Orang Rusia Part 2

Untuk part 1 anda bisa membacanya di sini.

Kalau dilihat dari keragamannya, kita bisa bilang bahwa terdapat sedikit nama dalam bahasa Rusia. Demikian pula dengan nama keluarga, sangat jarang terciptanya nama keluarga baru, di Moskow saja mungkin ada sekian puluh ribu Ivanov, sekian ribu Rodionov, Aleksandrov dan sebagainya. Ini menandakan adanya pengulangan nama oleh orang yang sekeluarga.

Walau begitu orang Rusia mempunyai kekayaan yang jarang dimiliki oleh bangsa lain dalam hal nama, yaitu menyatakan berbagai macam perasaan melalui nama. Dalam ilmu bahasa disebut dengan nama diminutif, contohnya nama Ekaterina, orang Rusia bisa memanggil dengan sebutan Katerina, Katya, Katenka, Katyusha, Katyushka tergantung perasaan dan kedekatan si pemanggil dengan Ekaterina.

Lanjutkan membaca Tentang Kekayaan Nama Orang Rusia Part 2

Tentang Kekayaan Nama Orang Rusia Part 1

Salah satu pertanyaan yang diajukan dalam perkenalan adalah “siapa nama anda?”, tetapi bagi orang Rusia, kalimat tanyanya agak lain, mereka menggunakan “как вас зовут?” yang kira-kira terjemahan dalam bahasa Indonesianya adalah “bagaimana anda dipanggil?”. Cara orang Rusia menanyakan nama ini memang aneh bagi kita yang belum terbiasa, maka dari itu saya akan coba jelaskan tentang keunikan nama-nama orang Rusia.

Lanjutkan membaca Tentang Kekayaan Nama Orang Rusia Part 1

Bahasa Indonesia dalam Perangkat Lunak

Tinggal di tempat baru, tentunya aktivitas penggunaan komputer saya masih seperti dulu, mengerjakan tugas, menjelajah laman-web, dan membaca e-mail. Hanya saja, di sini, saat menggunakan komputer kampus, saya harus berhadapan dengan komputer berbahasa Rusia, ya, semua berbahasa Rusia, dari antarmuka sistem operasi, hingga perintah formula dalam Microsoft Excel-pun disesuaikan dalam bahasa Rusia :D

Pertanyaanya, butuh berapa lama adaptasi dari kebiasaan kita, orang Indonesia yang notabene biasa menggunakan komputer berbahasa Inggris menggunakan komputer dengan Bahasa Rusia, berhubung saya sudah mengetahui bahasanya, adaptasi yang saya alami hanya sekitar 1 bulan, dan sekarang saya sudah cukup lancar mengoperasikan komputer dengan bahasa setempat.

Tentunya notebook pribadi saya saat itu masih dalam kondisi default, bahasa Inggris, dan yang membuat saya penasaran adalah, saat saya melihat notebook teman saya yang berasal dari Turki, Syria, dan beberapa negara lainnya, mereka menggunakan bahasa setempat( ex Bahasa Turki, Bahasa Arab, dll).

Seperti yang kita tahu, masalah orang Indonesia tidak mau menggunakan Bahasa Indonesia dalam perangkatnya adalah, bingung dengan kosa kata yang sudah diterjemahkan, mereka bilang bahwa kata tersebut, terasa terlalu baku, ganjil dan lain sebagainya. Saya terakhir kali mencoba antarmuka bahasa Indonesia kalau gak salah saat saya menggunakan Windows XP, saat itu saya install LIP versi Bahasa Indonesia.

So, akhirnya saya mencoba untuk menggunakan Bahasa Indonesia dalam notebook saya, berhubung notebook saya menggunakan Windows 7 Stater, saya tidak bisa mengganti bahasa sistem, dan akhirnya saya coba untuk mengganti bahasa Office 2010 saya ke Bahasa Indonesia.

Word bahasa Indonesia

Saya coba bekerja menggunakan Word dalam Bahasa Indonesia, dan hasilnya? Sama sekali tidak ada masalah, saya bisa mengatur paragraf dan penyetelan halaman, mengatur kop dan catatan kaki, dan lain-lain.

Jadi buat saya, selagi Bahasa Indonesia bisa eksis di dunia IT, kenapa kita sebagai orang Indonesia harus malu atau bingung menggunakannya? :)

IDENTITAS YANG DIJADIKAN KOMODITAS: Mitos Wajah Kampung di Rumah Makan Nasi Bancakan

The study looks into the kampong image phenomenom – particularly the Sundanese kampong which uses kampong as an identity for commodity. This is based on the assumption that food is underpinned by ideology and forms a system of communication. Bancakan restaurant which is the context for this case sutdy indicates how communication strageies are constructed to market a restaurant. Kampong image is chosen purposefully to impart an “ethnic identity” so that there will be a “symbolic consumption”. The analysis focuses on all aspects which constitute kampong stereotypes found as part of the identity construction of the society. The findings indicate that kampong stereotypes represented in among others the tools used for eating, ways of eating, clothes of the cooks and waiters, local (sundanese) intonation are exploted to be identified by consumers and consumed as part of the consumers (new) life style. This means that the kampong image helps construct an identity which shows “how we want to be acknowledged confirming Baudrillard proposition that reality succumbs to image, and, resulting the mythologies of the modern society.”

Lanjutkan membaca IDENTITAS YANG DIJADIKAN KOMODITAS: Mitos Wajah Kampung di Rumah Makan Nasi Bancakan

KTP… E

Para pengunjung, sudah ada yang tahu apa itu e-KTP atau KTP Elektronik? Kalu belum, silahkan caritahu informasinya di Google. Kalau kata aku sih, KTP Elektronik itu tidak ubahnya KTP biasa, hanya ditambah informasi biometrik dari pemegang KTP tersebut, dan ada microchip seperti di beberapa kartu kredit(dan bahkan beberapa kartu debit terbaru sudah menggunakan chip), selanjutnya aku juga belum tahu, karena sampai saat ini kota dimana tempat aku tinggal belum ada migrasi ke KTP berjenis elektronik ini :(

ada tulisan ini aku tidak mau banyak-banyak menceritakan soal teknisnya, cuma ingin sedikit berceloteh soal penamaan kartu identitas berbasis elektronik ini, pertanyaan yang ada di benak saya, kenapa namanya e-KTP?

Lanjutkan membaca KTP… E

Gramatika dalam Bahasa Hongaria — Pengenalan dan Nomina

Catatan: Berhubung postingan ini bagi sebagian orang memabukkan, maka saya akan tulis dengan bahasa se-santai-santainya, tidak memakai bahasa formal seperti postingan sebelumnya, okeh?

Jadi begini..

Beberapa bulan saya sempat mencoba belajar(kembali) bahasa Hongaria, kenapa? kok tertarik? Ya, karena kebiasaan saya yang tertarik dengan bahasa yang cukup “aneh” bagi sebagian orang di Indonesia.

Dan kesimpulan saya setelah belajar bahasa hongaria(magyar) adalah,

Lanjutkan membaca Gramatika dalam Bahasa Hongaria — Pengenalan dan Nomina

Klasifikasi Gender dalam Bahasa Perancis

Tidak seperti Bahasa Rusia, klasifikasi gender dalam Bahasa Perancis cukup sulit. Mengapa? Karena tidak seperti Bahasa Rusia yang mengandalkan “окончание”(akhiran kata — biasanya 2-3 karakter dibelakang kata) dan hanya memiliki sedikit pengecualian dalam hal klasifikasi gender. Sebenarnya, untuk mengklasifikasi gender dalam Bahasa Perancis, kita juga bisa melihat dari si akhiran katanya TAPI terlalu banyak pengecualian, so, mau ga mau kita diharuskan untuk menghafal gender-nya. Oke, daripada pusing buka kamus yang tulisannya cukup kecil, saya akan berikan beberapa akhiran kata yang saya hafal saja ya.

MASCULINE

  • -age(plage, rage, nage)
  • -an(médian)
  • -c
  • -d
  • -eme
  • -g
  • -i
  • -in
  • -is(brebis,fois,souris)
  • -iste(modiste, liste, piste)
  • -k
  • -l
  • -lon
  • -m
  • -non
  • -o(météo, dactylo, dynamo)
  • -om
  • -r(profondeur, odeur, largeur, valeur, fleur, couleur, soeur)
  • -ron
  • -t(forêt, nuit, dent, part, plupart)
  • -taire
  • -tre(fenêtre, huître, vitre, rencontre)
  • -u
  • -us

FEMININ

  • -ade(grade,stade)
  • -aison
  • -ce(silence, prince, commerce, pouce)
  • -ee(lycée, périgée, trophée)
  • -ie(incendie, cryptographie, périhélie)
  • -iere(arrière, derrière, cimetière)
  • -ine(domaine, capitaine, ciné, pipeline, moine, patrimoine, magazine)
  • -ion(million, billion, camion, dominion, lampion)
  • -ite(trilobite, anthracite, plébiscite, gîte)
  • -ile(intervalle, vermicelle, scelle, braille, mille)
  • -se(suspense, sconse, opposé, exposé)
  • -tte(ini ada pengecualiannya, tapi lupa :P )
  • -ure(dinosaure, centaure, kilowattheure)

Note: Yang di dalam kurung adalah pengecualian.

Nah, cukup banyak kan pengecualiannya, terutama pada kata bergender feminin, ya, inilah yang harus dihafal :syaiton: Terus buat apa kita menghafal gender ini? Gender ini akan dipakai pada beberapa deklinasi dalam Bahasa Perancis tentunya..

…..

Berhubung sudah jam 3:30AM dan saya masih belum ngantuk :| , maka saya coba untuk menjelaskan struktur kalimat dalam Bahasa Perancis, struktur dasar kalimatnya sih sama dengan Bahasa Inggris, tiap kalimat biasanya terdiri dari.

  • Subjek(Subject/Sujet) — S
  • Kata Kerja(Verb/Verbe) — V
  • Objek(An Object/Objet) — O
  • Keterangan/Adverbia(Adverb/Complément Circonstanciel) — CC

Oke, kita coba buat kalimat sederhana

ID: Saya(Subjek) belajar(Kata Kerja) bahasa perancis(Objek) di kampus(Keterangan)

EN: I (Subject) studied (Verb) French (Object) at college (Adv)

FR: J’ai étudié le français  à l’université >> J'(Sujet)ai étudié(Verbe) le français(Objet)  à l’université(Complément Circonstanciel)

Itu untuk kalimat sederhananya, sebenarnya masih banyak grammar yang harus dipelajari, seperti..

  • Articles — (Artikel)
  • Compléments Circonstanciels (CC) — (Adverbia)
  • Complément d’Objet Direct (COD) — (Hubungan objek langsung)
  • Complément d’Objet Indirect (COI) — (Objek tidak langsung)
  • Conjonctions — (Konjugasi)
  • Déterminants — (Determinan)
  • Groupe Nominal Sujet (GNS) — (Nominal)
  • Groupe Verbal (GV) — (Verbal)
  • Prépositions — (Preposisi)

Untuk yang ini saya akan bahas pada tulisan yang akan datang :D

Apakah aku perlu menyatakan diri kembali sebagai manusia agar aku dapat diperlakukan sebagai manusia yang sesungguhnya

Aku yang diparkir di antara tangan-tangan penguasa tak berbelas kasih

Aku tak punya kekuatan untuk menghancurkan kesombongan itu secepatnya

Aku tertindas dalam senyum palsu para pencari kekayaan di antara bangunan kemiskinan yang menjulang tinggi

Aku yang tak ternah diangap hidup dalam dunia ini

Aku yang terpaksa harus mengais di antara tumpukan kekayaan yang tak tersebar merata

Aku yang tak memihak, pikakku hanyalah ketertindasan

Aku yang ditunggangi, aku ditunggangi oleh penderitaan orang-orang sekitarku

Aku yang kata mereka bukan manusia

Aku bukan bagian dari mereka,, Mereka!

Itu kata mereka …

Aku perlu berkata kepada mereka bahwa aku ini manusia

Harus secepatnya aku katakan

Aku tak mau dipinggirkan terus – menerus

Apakah karena kulitku yang tak sama dengan mereka

Apakah karena rambutku yang memang dilecehkan mereka

Apakah karena tubuhku yang tak lengkap

Apakah karena wajahku yang tak sesuai dengan keinginan mereka

Seolah mereka sudah memesan kepada Tuhan sebelum lahirnya mereka

Hingga mereka dapatkan diri mereka dalam kesombongan

Hanya merekalah yang baik

Tak ada yang boleh membantah itu

Waktunya dan saatnya

Akan kukatakan dengan wajahku yang suram ini, kepada sang fana

AKU INI MANUSIA..!!

Kecap Anjing jeung Goblog

Lamun aya nu nyarios yang ”Manéh jiga ucing” jigana moal ngambek atawa kasinggung, tapi lamun aya nu nyarios ”Manéh jiga anjing” pasti urang-urang bakal ngamuk. Naha basa disebut ucing teu ngambek tapi basa disebut anjing ngarasa kasinggung? Salah naon si-ANJING tepi ngaran-na sering jadi hiji umpatan jang nyarékan atawa jeung ungkapan rasa ambek jelema. Naha pedah anjing dianggap mahluk nu najis.

Lain didieu lain di kulon. Di negara  kulon (Barat) atawa di negeri nu ngarasa kakulon-kulonan (kabarat-baratan) kecap Anjing sanés kecap nu dipaké kanggo nyarékan. Dog (anjing) malah jadi ungkapan nu sering dipaké kanggo ngamaknai nu positip. Misalna kecap “dog-fight” dipaké jang istilah duél pasawat tempur, bahkan aya istilah nu paling terkenal nyaéta “dog-style” nu artina ngadamel orok.

Balik ka topik nu awal. Tapi syukur, kecap anjing akhirna ngalami parobahan makna khususna dikalangan barudak ngora, utamina di kota angeung sepertos dikalangan anak muda Kota Bandung.

Jang anak muda Kota Bandung nu funky jeung gaul kecap anjing jeung kecap goblog ngan sakedar hiji tanda baca atawa panegas kalimat. Di ESD kecap anjing hanya berarti hiji tanda KOMA (pamisah kalimat), sedangkan kata goblog hartina TITIK. (Nutup hiji kalimat). Jadi ulah ngambek atawa ngarasa kasinggung lamun keur jalan-jalan di Kota Bandung bakal sering ngadangu kata anjing jeung goblog dina obrolan barudak ngora.

Améh jelas urang tingali hiji contoh dihandap ieu

“Tadi urang dahar anjing ayeuna rek ngaroko heula goblog

Tah kalimat éta lamun ditarjamahkeun ka bahasa indonésia nu alus jeung hadé hartina jadi

“Tadi saya makan, sekarang mau merokok dulu.

Tapi jang jalmi nu tingkat TOSFL masih rendah pasti bakal kasulitan jang ngartikeun kalimat jiga kieu

”Anjing aing digegel anjing goblog!”

Jigana kedah naroskeun ka Kang Ibing améh tiasa ngajelaskeun arti kalimat éta.

Sajalan jeung kamajuan basa sunda jadi bahasa internasional kecap anjing mimiti ngalami peluluhan atawa panghalusan, kecap anjing diubah jadi leuwih sopan jadi kecap anjrit, anjis atau anjroy. Malah di daérah Bronk jiga di Water Rock (Cicadas) ngalemeskeun kecap anjing cukup ditambahkeun kecap punteun. Jadi tong héran lamun aya jalma nu liwat ngomong permisina maké kata nu lemes nyaéta

”PUNTEN ANJING”

Cukup dijawab maké tutur kata nu teu éléh lemesna ogé

”MANGGA GOBLOG”

Di tahun 1994 sayah(penulis asli – lain abdi) pernah ngalakukan hiji panalitian leuleutikan (hanya ngitung wungkul) di babaturan SMA sayah di Bandung. Dina obrolan sakitar 15 menit, rata-rata kecap anjing jeung goblog kaluar leuwih ti 10 kali. Malah sayah sempet ngalakukan hiji tantangan ka babaturan lamun manéhna sanggup tahan teu ngomong kecap anjing jeung goblog salama 1 jam, saya rék méré duit 20 rébu. Babaturan sayah éta ngan mampu tahan sakitar 30 menit, saeunggeus éta manéhna ngobrol kaluar kecap anjing jeung goblog tanpa disadari ku manéhna.

Tah sakitu heula anjing éngké lamun aya waktu dilanjutkeun goblog.

Disclaimer: Dikutip tina milis BBV jeung UrangSunda. Tulisan ieu dipake referensi kanggo makalah paper abdi “Slang Language in Sundanese and Javanese”

Anggie Sukarno

Студент русской литературы