IDENTITAS YANG DIJADIKAN KOMODITAS: Mitos Wajah Kampung di Rumah Makan Nasi Bancakan

The study looks into the kampong image phenomenom – particularly the Sundanese kampong which uses kampong as an identity for commodity. This is based on the assumption that food is underpinned by ideology and forms a system of communication. Bancakan restaurant which is the context for this case sutdy indicates how communication strageies are constructed to market a restaurant. Kampong image is chosen purposefully to impart an “ethnic identity” so that there will be a “symbolic consumption”. The analysis focuses on all aspects which constitute kampong stereotypes found as part of the identity construction of the society. The findings indicate that kampong stereotypes represented in among others the tools used for eating, ways of eating, clothes of the cooks and waiters, local (sundanese) intonation are exploted to be identified by consumers and consumed as part of the consumers (new) life style. This means that the kampong image helps construct an identity which shows “how we want to be acknowledged confirming Baudrillard proposition that reality succumbs to image, and, resulting the mythologies of the modern society.”

 

Identitas adalah suatu produksi bukan esensi yang tetap dan menetap. Dengan begitu, identitas selalu berproses, selalu terbentuk di dalam – bukan di luar – representasi. Ini berarti otoritas dan keaslian identitas dalam konsep “identitas kultural” misalnya, berada dalam masalah. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hall (1997) dalam “Cultural Identity and Diaspora” yang menunjukkan bahwa sesungguhnya identitas bukanlah esensi melainkan konstruksi. Begitu juga Said (1992) dalam Orientalisme menunjukkan bahwa identitas Timur yang eksotis dan irasional ternyata bukanlah esensi melainkan konstruksi dan representasi Barat.

Bertolak dari dua pendapat tersebut, tulisan ini akan membahas rumah makan Nasi Bancakan yang menampilkan “identitas kampung”(baca zaman dulu) yang digunakan sebagai strategi pemasaran. Identitas kampung terlihat mulai dari cara pengolahan makanan, penyajian makanan, penggunaan peralatan makan dan memasak, penampilan berbagai ikon, sampai penampilan arsitektur rumah makan.

Rumah makan Nasi Bancakan Mang Barnas dan Bi O’on (kedepannya akan saya singkat NB) berlokasi di Jalan Trunojoyo 62, Bandung, terletak di pusat kota, lebih tepat lagi dekat pusat pemerintahan Jawa Barat, Gedung Sate. Dengan kata lain, rumah makan ini terletak di kawasan elite Kota Bandung. Tempat ini dibuka sekitar tahun 2007-an. Sebagai rumah makan yang relatif baru, tempat ini cukup mengundang banyak perhatian. Menurut pengelola NB, pengunjung yang datang dalam sehari bisa mencapai 400 orang, sedangkan pada akhir pekan jumlah pengunjung bisa berlipat. Hal ini pun bisa dilihat dari berjubelnya kendaraan yang diparkir di pelataran NB setap harinya.

“Sasaran kami memang kalangan menengah ke bawah. Kalau perlu, tukang becak pun bisa makan disini” – kata Mang Barnas ketika ditanya banyaknya pengunjung dan murahnya harga makanan.

Pada interior rumah makan NB ditampilkan pemandangan serba terbuka. Terdapat bangku-bangku dan di beberapa tempat terdapat tempat duduk lesehan yang bisa menampung lebih banyak orang. Pengunjung juga dapat melihat tempat mengolah makanan yang sengaja dipajang menghadap mereka. Masakan disajikan terhampir di dalam baskom berwarna warni. Pengunjung bebas mengambil apa pun yang mereka inginkan.

Penataan yang serba terbuka ini semakin diperkuat dengan berbagai alat makan yang mengingatkan para pengunjung pada suasana kampung zaman dahulu. Para pengunjung pertama-tama mengambil piring yang terbuat dari kaleng, menyendok nasi yang disajikan dalam tempat nasi yang sudah disediakan, memilih masakan yang terhampar dalam baskom-baskom, dan memilih sambal yang disajikan dalam cobek-cobek batu. Selain itu, mereka bisa memilih berbagai ikan asin yang disusun di atas tampah. Ikan asin bisa digoreng atau dibakar bergantung selera. Keduanya dilakukan di atas hawu(tungku) lengkap dengan kayu bakar yang terus membara. Di atas tungku selalu terpasang seeng. Sebelum menyantap makanan, pengunjung terlebih dahulu harus menghitung apa-apa yang akan dimakannya di meja kasir. Membayar boleh dilakukan di awal atau di akhir.

Air teh tawar boleh diambil sepuasnya, tersaji dalam teko kaleng. Di sampingnya tersusun cangkir-cangkir kaleng. Ketika menyantap makanan, mata pengunjung disuguhi berbagai pemandangan unik. Poster-poster dari penyanyi grup band dalam dan luar negeri, dan foto-foto artis yang pernah berkunjung ke NB.

Menurut pernyataan Mang Barnas, ikon rumah makan bersama dengan Bi O’on, mereka mengatakan bahwa “Sasaran kami memang kalangan menengah ke bawah. Kalau perlu, tukang becak pun bisa makan di sini”. Pernyataan ini berkaitan dengan banyaknya pengunjung dan harya yang relatif murah. Pernyataan ini sungguh ironis bila dikaitkan dengan berjubelnya kendaraan roda empat di pelataran parkir rumah makan. Walaupun makanan yang tersaji di dalam rumah makan sama persis dengan makanan yang dimakan tukang becak di warung pinggir jalan, tetapi tempat makanan itu ada di dalam sebuah gedung permanen. Selain itu, lokasi gedung tersebut berada di pusat kota kawasan cukup bergengsi, Jalan Trunojoyo. Hampir dapat dipastikan tidak ada tukang becak yang berani bersengaja menginjakkan kaki untuk makan disana. Bila benar, sasaran pendirian rumah makan itu untuk kalangan menengah ke bawah tentu tidak akan memilih lokasi seperti yang ada sekarang ini.

Dengan demikinan, saya melihat suatu paradoks dalam pernyataan “Sasaran kami memang kalangan menengah ke bawah. Kalau perlu, tukang becak pun bisa makan di sini”. Ada dua hal yang kontradiktif dari pernyataan tersebut.

  1. Tukang becak bukan kalangan menengah ke bawah hingga harus dijelaskan dalam kalimat berikutnya.
  2. Diawali dengan “kalau perlu”, hal ini mengindikasikan bahwa sebenarnya tukang becak tidak perlu makan di tempat itu.

Sesuai dengan pernyataan Bordieu bahwa konsumsi adalah simbol status dan kelas sosial terlihat nyata di rumah makan NB ini. Walaupun wajah kampung yang ditawarkan konsumen yang adatang adalah kelas menengah ke atas(terlihat dari padatnya mobil yang parkir). Hal ini secara tidak langsung menciptakan pembedaan dalam masyarakat (distinction).


Menyantap Makanan, Mengunyah Tanda.

Bordieu menegaskan bahwa “modal budaya” berperan di dalam medan budaya ketika cita-rasa di-norma-kan dan menjadi mekanisme klasifikasi sosial. Hal ini, sejalan dengan Baudrillard bahwa sistem tanda-tanda itu yang membedakan massa. Diferensi – dalam kasus diferensi kultural ini – adalah apa yang menciptakan suatu nilai dan ia mesti ditebus.

Ketika orang mengonsumsi sesuatu, yang dikonsumsi sebenarnya bukan nilai barang, tetapi cita rasa atas barang tersebut. Ungkapan Baudrillard ini sesuai dengan rumah makan NB. Makanan yang disajikan di rumah makan ini sama dengan warung-warung nasi pinggir jalan, bahkan mungkin di warung-warung nasi kecil harganya jauh lebih murah. Namun, nilai makanan itu menjadi berubah karena dia berada di dalam rumah makan mewah. Inilah yang oleh Bourdieu disebut dengan distingsi (berbeda / yang membedakan) antara kita (yang menyantap di dalam rumah makan) dan kalian (yang berada di warung pinggir jalan). Yang membedakan  ini dengan sendirinya membentuk sebauh kelas sosial sendiri.

Ketika sekelompok orang sedang menyantap makanan, secara tidak sadar mereka sedang mengunyah tanda-tanda yang rerselip melalui makanan dan minuman itu. Tanda itu kemudian menunjukkan kelas sosial si penyantap. Sekelompok eksekutif muda akan menghabiskan waktu hang-out mereka di Starbucks bukan di kedai kopi pinggir jalan. Setiap tegukan kopi Starbucks di dalamnya mengalir kelas sosial, cita rasa, seleram, gengsi dan harga diri. Minum kopi di Starbucks kemudian menjadi lambang kemapanan seseorang. Kopi dikemas sedemikian rupa bukan hanya sekedar kopi, melainkan identitas yang ditawarkan di balik secangkir kopi itu.

Bila Starbucks sejak awal berorientasi kekinian dan kemodernan, NB dengan sengaja menarik sejauh mungkin ke masa lampau yang berusaha dihadirkan pada masa kini. Hal ini terkadang tampat artifisial dan mengada-ada, contohnya adalah posisi sebuah tungku yang sengaja dibuat di tempat yang para pengunjung dapat melihat. Hal tersebut tidak lebih hanya sekedar pamer, karena tungku lebih sering digunakan hanya untuk memasak seperti konsep-konsep rumah makan masa kini dedngan dapur terbuka (J.Co, Breadtalk, dll). Ironisnya tidak jauh dari tungku itu terdapat kompor gas untuk menghangatkan atau menggoreng makanan. Di satu sisi ingin menampilkan wajah kampung dengan segala elemen-elemennya, di sisi lain yang tidak bisa menghindarkan diri dari modernitas yang memberikan efisiensi.

Strategi inilah yang dikomunikasikan kepada para pengunjung: ada “kesederhanaan” dalam “kemewahan”. Selain itu, dengan susah payah rumah makan NB ini menampilkan identitas kampung (sunda) dalam kemewahan rumah makan di perkotaan dengan menyertakan ungkapan atau kebiasaan makan di warung dalam spanduk yang cukup besar. Ungkapan tersebut berbunyi:

“Omat…, upami tuang 5 ulah ngaku 1, sing karunya ka emang Da Gusti mah Maha Uninga.. Ha..ha ha..”


Ungkapan ini biasa kita dengar untuk orang-orang yang makan di warung. Ketika selesai makan, mereka harus membayar apa saja yang telah dimakannya. Namun, kadang-kadang ada yang tidak mengakui semua yang telah dimakan agar tidak terlalu mahal membayar. Spanduk yang terpampang di antara ruang duduk dan ruang tempat mengambil makanan ini sepintas membuat tersenyum siapa pun yang membaca, mengingatkan kita pada olok-olok ketika makan di warung tersebut, tetapi sungguh ironis ketika spanduk tersebut ditulis di rumah makan mewah.

Ada dua tafsir yang bisa saya berikan, pertama merekam identitas Sunda sebagai penipu (makan lima mengaku satu), kedua sebagai awas-awas untuk tidak mengulangi itu lagi. Namun, dugaan saya yang kedua langsung dipatahkan karena setelah selesai mengambil makanan, pengunjung harus langsung menuju meja kasir yang siap menghitung apa saja yang akan dimakan (bukan telah dimakan). Setelah itu, pengunjung dipersilahkan makan dengan membawa secarik kertas yang di dalamnya terdapat daftar makanan yang telah diambil. Pembayaran boleh dilakukan sebelum atau setelah makan.

Dengan demikian, spanduk tersebut lebih merupakan simbol daripada peringatan karena pihak pengelola sudah membuat sistem pembayaran agar orang tidak bisa berbohong. Jadi, spanduk itu merupakan rekaman budaya. Kita dipaksa tertawa membaca spanduk itu sekaligus menertawakan diri sendiri bahwa kita memiliki identitas budaya sebagai penipu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *