Nasib Transportasi Publik di Bandung

Salah satu hal yang saya tidak suka dari kota Bandung adalah urusan Transportasi Publik. Memang ada apa dengan transportasi publik di kota kembang tersebut? Bukannya angkot ada banyak ya? Becak juga ada banyak? Terus gak suka kenapa?

Ambil contoh saja dari seorang mahasiswa bragajulan ini..

Mahasiswa ini tinggal di Gedebage, setelah selesai sarapan, dia berangkat pukul 6 pagi, dari depan rumahnya dia jalan kaki ke depan komplek, inginnya sih naik ojek, tapi apadaya, sekumpulan ojek itu malah nangkring di depan komplek, buat apa mahasiswa ini naik ojek kalau sudah sampai depan komplek? Ya sudah, sesampainya di depan komplek dia harus naik angkot warna kuning, menuju perempatan gedebage, sialnya, transportasi publik ini tidak langsung jalan, melainkan menunggu penumpang yang lain, tidak sebentar, cukup membuat kesal juga, setelah sekian belas menit, barulah kendaraan kuning itu berangkat, sesampainya di jalan soekarno hatta, dia memberikan ongkos sebesar 2000 rupiah. Mahasiswa bragajulan ini ingin mencoba TMB, lalu dia sengaja berjalan dekat pasar gedebage untuk mencari tenda darurat shelter TMB, 15 menit menunggu, tak kunjung datang, terpaksa dia menggunakan angkot warna hijau(Cicaheum – Cileunyi), seharusnya, angkot ini bisa sampai pintu tol Cileunyi, hanya saja, tingkat kemacetan di bunderan Cibiru cukup parah yang sering membuat angkot ini putar balik, terpaksa dia turun di bunderan cibiru dan membayar 1500 rupiah, sisanya dia menggunakan angkot Hijau(dengan strip kuning) Gedebage – Majalaya (via Sayang), angkot ini sialnya sering ngetem lama di beberapa lokasi, belum lagi terkena macet di beberapa titik(biasanya di tempat yang ada sekolah), untungnya kendaraan ini dapat langsung berhenti di depan kampus yang katanya kesayangannya. Biaya bensin+jasa supir angkot ini adalah 3000 rupiah(kalau supirnya lagi bete bisa 3500 rupiah). Mahasiswa bragajulan ini sampai di kampusnya sekitar pukul 7.45, masih sempat membeli Chicken Mayo Risoles dan lari-lari kecil menuju fakultas tempat dia kuliah.

Dari cerita diatas, saya bisa menyimpulkan bahwa transportasi publik di kota Bandung itu

  • LAMBAT. Lebih banyak ngetém daripada jalan, terlebih kalau tidak ada penumpang, jalannya lambat sekali.
  • MAHAL. Sekali jalan saja bisa habis IDR 6500 – 7000, sebenarnya ini dikarenakan naik angkotnya putus-putus.
  • TIDAK NYAMAN. Terlebih kali kalau di pagi hari, penuh sesak.

Saya pribadi kurang begitu suka dengan poin lambat dan mahal, kalau urusan “tidak nyaman” itu relatif, toh, mayoritas transportasi publik di Indonesia tidak nyaman, kan? :D

Sudah cukup lama saya tinggal di bandung, dan sering mengalami nasib sama seperti mahasiswa bragajulan itu. Sangat disayangkan pemerintah tidak terlalu fokus mengupayakan agar yang namanya “Transportasi Publik” ini dibuat sangat nyaman, murah, dan tepat waktu. Karena masalah inilah banyak masyarakat yang mengupayakan transportasi untuk dirinya sendiri, salah satunya adalah Sepeda Motor, kendaraan ini memang satu-satunya solusi masyarakat(ingat, masyarakat, bukan solusi pemerintah) untuk mengatasi problem buruknya transportasi publik di Bandung, bahkan si mahasiswa bragajulan itu juga akhirnya menggunakan motor untuk kebutuhan transportasi sehari-hari, cukup dengan mengisi bensin sebesar 25.000 rupiah, sudah bisa berkeliling bandung selama kurang lebih 4 hari. Cukup murah dan hampir tepat waktu.

Memang untuk saat ini, menggunakan kendaraan roda dua merupakan solusi yang terbaik, tentu saja untuk jangka panjang ini merupakan solusi yang buruk, populasi motor yang overload juga akan menimbulkan masalah di kemudian hari.

Saya sendiri cukup senang adanya Trans Metro Bandung, ini mirip sekali dengan TransJakarta(saya suka dengan TransJakarta ini, murah dan rutenya cukup banyak meng-cover hampir seluruh wilayah Jakarta). Sayangnya, sejak diresmikan 2009 lalu, Trans Metro Bandung ini hanya melayani rute Cibiru – Elang saja, itupun armadanya belum banyak, sedangkan yang saya baca di koran hanya sebuah tulisan “Akan menambah rute.. “, “Akan menambah armada..”, “Akan menggantikan damri…” dan sekumpulan kata “akan” lainnya.

Pertanyaanya “Kapan?”

 

18 thoughts on “Nasib Transportasi Publik di Bandung”

  1. wahhh kasian ya si mahasiswa bragajulan itu??? Na’as hidupnya mau kuliah aja susah banget…

    tapi sesuatu yang hebat itu berawal dari kesusahan, kegagalan, lemah lesu lunglai 5L lah pokoknamah…

    semangat gor, semangat oge jadi mahasiswa bragajulan n_n

    ada satu lagu yang bikin saya sedikit lega

    #Mesing Tempur – Supir Angkot Goblok

    itu lagu yang cocok buat supir angkot hehehe

    Anggie:
    Sekarang si mahasiswa bragajulan itu udah punya motor kok :D

  2. Nambahin yaa… tiap lampumerah banyak gonjreng-gonjreng pengamen, beberapa suka maksa. Klo lagi sendirian, suka serem ih! daripada gimana2 mending ngasih.
    Kalau diitung, biaya angkot 2000 bisa molor jadi 4000-5000 :(
    Beda kalau naik motor, jarang dimintai :D

    Anggie:
    Nah, itu dia, pengamennya juga nyeremin, biasanya mereka merangkap preman

  3. Wah, TMB seperti apa sih? Saya belum pernah naik. :D
    Angkot sebenarnya nggak salah sih. Angkot itu menurut saya merupakan ciri khas Indonesia. Di Jakarta ada, Bandung, SUrabaya, Semarang, pasti ada. Jangan sampai angkot dihapus. Mungkin kalo mau mencari kesalahan, jumlah angkot tidak dibatasi sejak dulu. Jangan sampai terjadi seperti di Bogor (entah gimana sekarang) yang pernah kena julukan kota sejuta angkot. :)

    Kalo mau menyebut pemkot tidak serius membenahi angkutan umum (tranportasi umum/publik), bisa saja. Itu gak salah. :lol:

    Anggie:
    Sama, sayah juga belum pernah naik TMB :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *