Bahasa dan Tingkat Prestise Seseorang

Senin, 14 Maret 2011

Seperti biasa, setiap hari saya selalu berangkat dari Jatinangor menuju Dipati Ukur untuk menuntut ilmu pasti, tentunya sangat melelahkan mengingat perjalanan dari Jatinangor(Kabupaten Sumedang) menuju Dipati Ukur(Bandung Kota) memakan waktu kurang lebih 1.5 – 2 jam, terasa lelah juga mengemudi ditengah kemacetan Kota Bandung, dan akhirnya saya mulai terasa lapar, dan mulailah saya mencari tempat makan.

Akhirnya saya bertemu juga dengan Warung Steak yang letaknya di pinggir jalan di sekitaran Taman Citarum, menurut beberapa teman-teman yang kost di sekitaran itu, walau letaknya di pinggir jalan dan hanya ditutupi “tenda biru” tapi rasa steak tersebut lumayan enak dan tidak bikin kantong jebol, oke, cukuplah untuk mahasiswa :) . Akhirnya saya memarkirkan Classy Pro kesayangan, dan masuk ke warung tersebut.

Posisi Duduk

maaf ya ilustrasinya jelek, iseng-iseng gambar di kertas biasa sih :p

Singkat cerita, saya duduk di meja nomor satu, di meja nomor tiga terdapat 4 – 6 orang yang saya kira itu mahasiswa juga, dan mereka semua ngobrol dalam bahasa (yang katanya) bahasa gaul, atau lebih tepatnya bahasa betawi :)¬† . Oke, seperti biasa, saya memesan makanan dan menunggu, saya menunggu sambil membaca buku dan tak menghiraukan orang-orang di meja nomor 3. Karena orang-orang di meja nomor tiga datang lebih dulu tentunya mereka mendapatkan makanan lebih dulu dari saya, it’s okay. Tapi hebatnya, mereka yang sebelumnya cerewet bin berisik saat makan¬† pada diam dan menyantap makan malam mereka masing-masing.

Selang beberapa menit, datanglah dua wanita(dan sepertinya mereka mahasiswi, maka, kedepannya akan saya sebut mahasiswi saja :D ) yang bisa saya bilang, cantik, lucu, dan imut, pokoknya perfect deh ;) dan mereka duduk di meja nomor dua, tentunya berhadapan dengan saya \:D/

Dan, apa yang membuat saya kagum dengan kedua mahasiswi tadi selain cantik, lucu, dan imut? Bahasanya! Saya bisa menebak, mereka adalah orang sunda asli, dengan bahasa sunda yang sopan,nyaman untuk didengar(sampai-sampai saya aja gak ngerti) dan halus, pokoknya urang bandung pisan lah :D Ya, mereka bercakap-cakap dalam Bahasa Sunda yang halus itu sambil menunggu makanan mereka tiba.

Sesuai dugaan, sang pelayan memberikan pesanan saya, dan saya mulai melahapnya ;) saat itu juga sekumpulan mahasiswa yang ada di meja nomor tiga selesai makan, dan mereka mulai bercakap-cakap kembali — tentunya dalam bahasa betawi tadi ;) yaah, berisik lagi, tapi ya sudahlah :)

Dan yang cukup mengejutkan, setelah orang di meja nomor tiga kembali berbicara, dua mahasiswi cantik yang ada di meja nomor dua tadi juga masih bercakap-cakap, tapi Bahasanya kok berubah jadi Bahasa Betawi? :O

Saya yakin sekali mahasiswi cantik nan jelita tersebut adalah orang sunda asli, lalu kenapa jika awalnya mereka berbicara menggunakan bahasa sunda yang halus setelah mendengar percakapan dari sekumpulan mahasiswa di meja nomor tiga yang berbicara dengan bahasa betawi(yang gue-elo itu) lalu mereka jadi ikut-ikutan?

Apakah ini sebuah penerapan dari tingkat prestise sebuah bahasa? Dimana Bahasa betawi(disebut juga bahasa gaul oleh beberapa orang) sering muncul di TV,Radio, dan media cetak sehingga banyak orang beranggapan Bahasa itu adalah Bahasa yang “Gaul” atau “Modern” sehingga meningkatkan tingkat prestise seseorang jika dia menggunakan bahasa tersebut?

Atau bahasa sunda terlalu rendah untuk disandingkan dengan bahasa betawi yang notabene masih sama-sama bahasa daerah?

Ataukah…?

18 thoughts on “Bahasa dan Tingkat Prestise Seseorang”

  1. Hmm, mungkin faktor kurangnya rasa bangga akan daerah masing-masing kali ya, atau seperti gue, karena kebiasaan. Biasa melihat media memakai bahasa seperti itu jadi akhirnya terbawa

  2. Tapi yang saya pahami dari sudut pandang temen-temen sebaya, katanya menggunakan bahasa sunda itu kesannya seperti orang lugu, bener gak sih? :P

    Menurut pendapat pribadi sih, biasanya (yang sering saya temui) orang yang konsisten menggunakan bahasa sunda yang baik dan benar itu “low profile”.

  3. bahasa sunda itu justru unik dan mendengarnya tuh adem….malah aku pengen banget ngerti bahsa sunda…hehehehe..
    kalau bahsa betawi/ bahasa gaul adalah bahsa kebiasaan yang sudah dibiasakan khususnya diibukota.

  4. Syukurlah di Surabaya tidak terjadi. Di Surabaya, tetep bahasa yang digunakan anak2 SMP, SMA, dan kuliahan adalah bahasa campuran, jawa dan indonesia baku. :)

  5. hal yg sama terjadi di luar jawa (baca; makassar) .. coba sekali2 dengar radio “gaul” lokal yg ada di daerah, pasti pake “elo-gue” salah kaprah mengartikan antara “gaul” dan bahasa betawi

  6. salam kenal yak

    aq malah beranggapan bahasa daerah punya keunikan masing..masing dan sunda termasuk ayng aq suka..halusss dan lembut ditangan…*hihikayakmolto*

  7. ah tergantung orangnya kali Nggi… saya kalo ke Bandung otomatis jadi nyarios Sunda sih, ga pake lo lo gue gue. Kalo pulang ke Palembang, ketemu temen-temen lagi ya pake bahasa Palembang. Biar akrab gituuuh.. :))

    Bener juga sih kata Ridu, mungkin yang di meja 2 pengen supaya didenger sama yang di meja 3 kaliiii.. :))

  8. menurut gue malah meja nmr 2 itu mau caper ke meja nmr 3, sapa tau diajak kenalan. gue kalo jd si meja nmr 2 juga gitu kok huauahauhauhua sapa tau gara2 kesamaan bahasa, cowo2 di meja nmr 3 jd tertarik :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.