Revitalisasi Bahasa atau Mati?

Secara tidak sadar bangsa kita telah rapuh oleh bahasa, meskipun konstitusi atau hukum telah mengaturnya. Pelatihan bahasa-bahasa asing semakin banyak di berbagai tempat, adalah indikasi kerapuhan itu. Bahkan, institusi pendidikan yang seharusnya menjaga keutuhan bahasa Indonesia justru membuka peluang kerapuhan bahasa Indonesia.

Indikasi lain adalah peningkatan hasil produk-produk(komoditi) yang semakin bervariasi. Lembaga-lembaga terkait, seperti balai bahasa belum mengeluarkan kebijakan yang dapat mengontrol tata cara penamaan pada suatu produk. Produk-produk(komoditi) terus meningkat, sementara penamaan produk tersebut masih menggunakan bahasa Inggris. Hal ini memiliki motif ekonomi yang bersifat ekonomi liberal, sehingga tata cara penamaan produk pun tidak dapat diatur.

Bila kesadaran dan kerapuhan bahasa tidak dinamis, bahasa Indonesia kemungkinan terbesar akan menjadi korban keganasan bahasa Internasional(bahasa Inggris). Tujuan pemuda yang melakukan sumpah pemuda 1928 pun tidak mendapatkan generasi penerus perjuangan. Fatalnya, bahasa Indonesia hanya menjadi bahan museum. Kepribadian bangsa dalam menjaga keutuhan bangsa pun akan ikut rapuh, maka makna sumpah pemuda tidak lagi berarti karena tidak mampu menjaga tanah air sendiri.

Bahasa bukan komoditi tetapi suatu alat pengikat individu dalam suatu wujud sosial. Namun, ironisnya bahasa telah menjadi nilai jual. Lembaga-lembaga bahasa asing menawarkan jasanya kepada calon konsumen, pada tahap inilah bahasa merupakan komoditi.

Semakin tinggi kesadaran berbahasa, khususnya bahasa bangsa sendiri maka semakin kokoh suatu bangsa, sejarah telah membuktikan, terjadinya sumpah pemuda adalah awal masyarakat Indonesia mengikat perbedaan-perbedaan suku bangsa, yang kemudian secara sah di atur dalam konstitusi pada tahun 1945.

Kondisi bahasa yang semakin rapuh diakibatkan arus globalisasi, sehingga rekonstruksi pola pikir pemuda pun mengacu pada situasi global dan berdampak pada ketidaksadaran berbahasa bangsa sendiri. Dalam hal ini pemuda telah membunuh bangsanya sendiri. Pemuda dalam situasi globalisasi justru berprioritas pada teknologi dan pengalamannya yang dibentuk oleh situasi global tersebut.

Kerapuhan bahasa yang berdampak pada keutuhan bangsa diakibatkan ekonomi liberal yang dianut oleh bangsa Indonesia, maka solusi pertama adalah mengkonter pelaku-pelaku ekonomi yang menghasilkan produk dalam bentuk peraturan(tata cara penamaan produk) yang berorientasi pada khaidah-khaidah bahasa Indonesia. Lembaga-lembaga terkait sudah seharusnya memperhatikan kondisi ini. Dan, peran pemuda bangsa adalah penutur bahasa bangsa sebagai wujud penandigannya. Sebab, dengan menjaga keutuhan bahasa berarti pemuda telah melakukan satu tahapan menjaga keutuhan sejarah Indonesia.

Dalam situasi seperti ini, pemuda Indonesia harus berorientasi pada penggunaan bahasa Indonesia sebab institusi pendidikan pun tidak dapat diharapkan. Satu-satunya harapan penerus dan penjaga keutuhan bahasa bangsa dalam memaknai sumpah pemuda ada pada jiwa pemuda itu sendiri.

Anggie Sukarno

12 thoughts on “Revitalisasi Bahasa atau Mati?”

  1. bahasannya berat banget buat di baca di hari minggu nih :p

    “dengan menjaga keutuhan bahasa berarti pemuda telah melakukan satu tahapan menjaga keutuhan sejarah Indonesia” << berarti pemuda udah gagal dong..? kan timor leste eh timor timur udah lepas dari indonesia

  2. I actually truly like anything you publish here. Particularly insightful plus intelligent. One dilemma however. I’m operating Chrome by using Debian plus parts within your current design types absolutely are a minimal wonky. I actually realize it’s not much of a popular put in place. However it’s a little something so that you can preserve in mind. I actually hope not wearing running shoes will certainly enable plus continue to keep up the major level of quality crafting.

  3. Setuju. Kita harus mempertahankan eksistensi bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa. Harus. tetapi kita juga tidak boleh ketinggalan perkembangan dunia global yang semakin cepat. Bahasa Inggris, mau atau tidak mau, kita harus mampu menggunakannya. karena bahasa inggris saat ini merupakan alat untuk mengikuti perkembangan dunia. bila kita tidak mau tahu tentang bahasa ini, kita pasti akan dilibas habis oleh negara-2 lain. kemajuan apa yang kita dapat? diakui atau tidak, semua teknologi terbaru dan modern banyak berasal dari luar. indonesia masih jauh dan harus banyak belajar. Nah banyak belajar ini yang mengharuskan kita untuk mampu menggunakan bahasa dunia ini, yaitu bahasa Inggris. contoh sederhana: yang mempunyai blog ini pun pasti sudah merasakan kegunaan bahasa inggris. apalagi seorang programmer atau teknisi computer akan cepat pandai dan berkembang pesat apabila mampu berbahasa inggris. karena teknologi yang ada berbasis bahasa inggris, teknologi internet pun berbasis bahasa inggris, dan internet sekarang ini pun merupakan sarana perkembangan dunia yang paling hebat. dan sepertinya banyak bidang yang lain yang menuntut hal ini. benar tidak? jadi bagaimanapun caranya, kita harus mampu. hanya cara pembelajaran yang bagaimana, dan sampai sejauh mana bahasa asing ini tidak menghapus eksistensi bahasa Nasional kita? itu yang harus dipikirkan dan diterapkan langkah kebijakannya. Jangan sampai “Implementasi keharusan penggunaan bahasa Indonesia menghalangi kemajuan, baik sisi perkembangan teknologi, perdagangan, perekonomian dan persaingan dengan negara lain.” memang saat ini bahasa asing sudah sebagai komoditi, tapi mau bagaimana lagi? kebijakan pemerintah tidak mendukung, bila tidak ingin bahasa asing sebagai komoditi atau kalau saya katakan sebagai produk, maka seharusnya ada kebijakan seperti belajar bahasa asing tanpa biaya. menurut saya kita bisa mencontoh negara-2 luar yang dimana eksistensi bahasa nasional tetap kuat, tetapi kemampuan masyarakat dalam berbahasa asing pun tidak kalah dan mampu digunakan untuk mengikuti perkembangan dunia internasional.

    Anggie:
    Terima kasih atas masukannya, :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.