Belajar Untuk Bertanya

Kebanyakan mahasiswa dari Indonesia (atau Asia pada umumnya?) saat kuliah tidak pernah bertanya dalam kelas, ketika dosen bertanya “ada pertanyaan?” hampir tidak ada yang bertanya, tidak sampai lima menit kemudian kelas berakhir tanpa ada mahasiswa yang bertanya, kalau-pun ada yang bertanya, mahasiswa itu bertanya setelah kelas selesai.

Beda saat kuliah di Rusia, orang Rusia terkenal “tukang tanya”, dalam 90 menit perkuliahan, hampir 60 persen diisi oleh sesi tanya jawab, orang Rusia kalau belum puas ya belum selesai bertanya dan baru akan diam saat mereka sudah benar-benar paham.

Kenapa ini bisa terjadi? Pertama, karena malu, orang Indonesia terkenal malu-malu, mereka menganggap bahwa banyak bertanya itu berarti bodoh, padahal ya karena belum tahu. Kedua, bisa jadi karena tidak tahu apa yang mau ditanya. Ketiga, takut dianggap sok tahu atau sok pintar oleh kawan-kawannya.  Keempat, malas bertanya.

Karena orang Indonesia tidak pernah bertanya, akibatnya banyak yang tidak tahu cara bertanya, kebanyakan orang Indonesia kalau bertanya itu seperti menulis skripsi, ada pendahuluan, maksud dan tujuan dan lain-lain, contohhya “Seperti kita ketahui.. bla bla bla.. maka dari itu bla..bla..bla.. ” sepuluh menit kemudian “…. jadi yang ingin saya tanyakan adalah…”, yes pertanyaan baru muncul sepuluh menit kemudian.

Lalu apakah ada pertanyaan bodoh? Ada! Contoh pertanyaan bodoh adalah saat acara berita di TV, seorang wartawan acap kali bertanya orang atau keluarga korban kecelakaan atau musibah lainnya dengan pertanyaan “bagaimana perasaan Anda? Apakah Anda sedih?.

Tapi sekarang berkat adanya mesin pencari Google, orang paling tidak menjadi semakin aktif bertanya – ke Google, bukan ke dosen, urusan benar atau salah jawabannya, itu lain cerita.

18 thoughts on “Belajar Untuk Bertanya”

  1. Betul sih, bahkan kalau punya ide, punya pertanyaan dan jawawaban yang sekiranya penting dan bagus bisa di tulis dan di share di blog misalnya. Jadi orang yang membutuhkan bisa lebih mudah juga ya..

    Salam kenal..

  2. Penutupnya benar sekali kang, sekarang orang banyak bertanya ke Mbah Google, soal benar atau salah nomer sekian.

    Ngg, aku juga sebenarnya malas bertanya kang, dulu waktu Sd diam saja kalo guru menjelaskan.

  3. Wuihihi betul banget ini yang ditulis mas Anggie 😂

    Saya juga kebanyakan bertanya ke Google, dan memang saya tipe yang juga jarang bertanya ke orang nowadays (mungkin karena itu juga jadi sering tersesat) hahahaha 🤣 kalau dulu pas sekolah nggak bertanya, alasannya mostly karena sudah paham dengan apa yang dibahas *sok iye banget ya*, tapi kalau sekarang, sepertinya karena lebih timid jadi orang (entah malu, entah sungkan, entah apa), tapi yang pasti, lebih suka cari jawaban sendiri di Google meski bisa jadi nggak 100% benar 😅

  4. Ini bener banget Mas urusan tanya-bertanya.
    Memang demikian saya alami saat dulu zaman kuliah. Eh rupanya demikian juga saat bermasyarakat. Misal ada penyuluhan di kelurahan, yang bertanya minim sekali. Kadang sampai berkali-kali si pembawa acara mengingatkan, ada pertanyaan? Ada pertanyaan?

    Tentang bertanya ke google…hehehe saya jadi ingat salah satu bukunya Pidi Baiq. Dia bilang “google menjawab semuanya, pidi baiq menjawab semaunya”. Suatu ledekan kalo orang-orang lebih suka bertanya pada mesin…

    Salam dari Sukabumi, Mas

  5. ini benar sekali. atasan saya, orang Rusia, sering sekali menyuruh saya untuk bertanya kalo tidak paham sesuatu. akhirnya saya mulai sering bertanya dan akhirnya menyukai kebiasaan ini.

  6. Apa yang mas Anggie, jelaskan di atas ada benarnya juga lho? Jujur dulu saat saya kuliah juga saya tak berani tanya sub bab pokok materi kuliah yang diajarkan hari itu ya itu karena saya tipe cewek pemalu, jadi ya? Diem aja . Btw, salam kenal mas?

  7. Betul banget mas anggi.. Dari zaman saya SD sampai lulus kuliah di negara kita indonesia jika guru atau seorang Dosen berkata.

    “Sampai disini ada pertanyaan”…Cuma hening sepi yang ada..

    Bodohnya lagi setelah semuanya selesai malah bertanya sama sang teman yang sama2 bodoh.🤣🤣🤣

    “Tadi pengen tanya sama pak dosen cuma….Nggak enak saja”….

    Ciri khas orang indo….Malu2 yaa akhirnya memang malu2in..🤣🤣🤣

    Semoga generasi sekarang tidak begitu deh..🤣🤣

  8. Tergantung lihat disennya juga sih, mas …

    Kalau dosennya enak membimbingnya, aku mau bertanya …,tapi kalau pembawaan dosennya udah lama memang nyebelin, aku dan teman-teman pada bungkam males bertanya 😅🤭

  9. Paragraf terakhir aku ngikik mas anggi, ini agak pakai majas sarkasme ya, bertanya pada google, entah jawabannya benar atau salah, wallohualam

    Mengenai keengganan bertanya, kuakui memang betul pernah mengalami moment-moment itu, tapi dari ke-3 alasan yang ada, yang paling sering adalah yang nomor 2, tidak tahu cara bertanyanya bagaimana. Takut pas melontarkan pertanyaan terkesan wagu atau aneh, berputar-putar, etc… ya begitulah sebagian besar juga karena faktor rendahnya tingkat kepercayadirian

    Tapi sedikit cerita, pas masih SMA, kebetulan kurikulum juga udah berganti menjadi sistim ktsp (waktu itu), jadi ada beberapa mata pelajaran yang memberlakukan adanya forum diskusi pada satu materi tertentu.

    Nah supaya melecut siswanya untuk bertanya, maka sang ibu guru, waktu itu guru ppkn lebih tepatnya, beliau mewajibkan salah satu point penilaiannya ya dengan siswa bertanya itu tadi, semakin berbobot pertanyaan dan tanya jawab dalam forum diskusinya, maka semakin tinggi point yang diberikan. Ya itu salah satu cara aja supaya memancing siswa lebih kritis

    Tapi pas memasuki dunia perkuliahan yang mahasiswanya jauh lebih banyak, menjadikan keberanian bertanya surut lagi, kurang seantusias mahasiswa Rusia kayak yang udah Mas anggi ceritakan di atas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.