Alasan Rumitnya Numeralia Dalam Bahasa Prancis

Photo: k on Flickr [source]

Setiap orang asing yang ingin mempelajari bahasa Prancis pasti akan kesulitan saat mempelajari numeralia dalam bahasa Prancis.

Lalu apa susahnya numeralia di bahasa Prancis? Bukannya mudah? Contohnya seperti ini:

1: un6: six20: vingt
2: deux7: sept21: vingt et un
3: trois8: huit30: trente
4: quatre9: neuf31: trente et un
5: cinq10: dix40: quarante

Mudah bukan? Memang sangat mudah sampai angka 69, setelah itu Anda akan bingung karena tidak ada kata sendiri untuk 70, 80 dan 90, berikut terjemahan untuk angka-angka berikut:

  • 70: soixante-dix (enam puluh + sepuluh)
  • 80: quatre-vingts (empat x dua puluh)
  • 90: quatre-vingt-dix (empat x dua puluh + sepuluh)

Bahkan bagi penutur asli (native speaker) bahasa Prancis sudah terbiasa membuat lawan biacaranya yang bukan penutur asli diam saat memberikan nomor teleponnya, contohnya:

ร‰coutez, voici mon numero:

zero sept, quatre-vingt-dix-neuf, soixante-dix-sept, quatre-vingt-douze, soixante-huit, quatre-vingt-dix

Jika diterjemahkan secara harfiah akan menjadi:

Dengar, ini nomor saya:

nol tujuh, empat-dua puluh-sepuluh-sembilan, enam puluh-sepuluh-tujuh, empat-dua puluh-dua belas, enam puluh-delapan, empat-dua puluh-sepuluh

Nomor yang dia maksud adalah 07 99 77 92 68 90

Untuk bisa menguasai bahasa Prancis, pengetahuan bahasa saja tidaklah cukup, terutama untuk numeralia-nya, diperlukan sedikit skill matematika. Contohnya 72, mereka lebih prefer menyebutnya dengan 60+10+2 (soixante-dix-sept), atau contoh yang lebih pusing lagi: 99 diterjemahkan sebagai 4×20+10+9 (quatre-vingt-dix-neuf). Jadi bisa dibayangkan bagaimana pusing-nya kita saat mendengarkan salesman di Prancis yang sedang menjelaskan TV seharga โ‚ฌ99.99.

Sebenarnya, ada beberapa French speaking countries yang mengadopsi numeralia yang lebih logis (logis untuk kita tepatnya). Swiss dan beberapa daerah di Belgia menggunakan kata “septante” untuk 70, “octante” atau “huitante” untuk 80 dan “nonante” untuk 90.

Lalu kenapa orang Prancis lebih memilih numeralia yang lebih rumit ini?

Menurut sejarah, ada beberapa metode dalam perhitungan, yang paling kita kenal adalah angka romawi yang menggunakan sistem base 10, itulah kenapa dalam angka romawi 20 menjadi XX dan 30 menjadi XXX. Sejarahnya, perhitungan base 10 ini mengacu pada jumlah jari yang ada di tangan kita.

Bahasa Prancis juga menggunakan sistem base 10 sampai angka 70, seterusnya mereka menggunakan vigesimal system, dimana sistem ini mengacu pada perhitungan base 20, itulah kenapa 84 dibaca quatre-vingt-quatre (4×20+4).

Menurut sejarah, perhitungan base 20 ini tidak hanya mengacu pada sepuluh jari tangan, tapi sepuluh jari kaki juga dijadikan acuan, jika kita hitung seluruh jari tangan dan kaki kita akan mendapatkan angka 20, bukan? :)

Banyak yang bilang bahwa bahasa Prancis memiliki pengaruh dari bahasa Keltik, ada juga yang bilang karena pengaruh dari budaya Viking, ini cukup masuk akal mengingat penomoran di bahasa Keltik dan Denmark sama-sama menggunakan sistem vigesimal atau base 20.

Lalu kenapa sistem numeralia ini tidak dibuat seragam?

Konon katanya, di Abad Pertengahan saat penjelajah Romawi tiba di Prancis, mereka berusaha untuk menerapkan metode mereka ke orang Prancis, tapi tidak sepenuhnya berhasil, mereka lebih prefer menggunakan sistem lama mereka. Betul sekali, orang Prancis sudah sangat terbiasa mengatakan quatre-vingt daripada huitante.

Itulah kenapa banyak orang asing lebih prefer mempelajari numeralia dengan acuan Swiss French karena lebih mudah dipahami. Meski begitu, perlu diingat bahwa hampir semua orang Prancis tidak pernah memiliki masalah dengan sistem ini, bagi mereka tidak perlu mengganti sesuatu yang tidak menjadi masalah bagi orang Prancis.

Dibalik segala kerumitan-nya, orang Prancis selalu mengatakan bahwa sistem ini baik untuk mengajarkan anak-anak tentang hitungan sejak dini, itu mungkin salah satu kelebihannya. Overall, setelah kita pelajari lebih dalam, sistem ini tidak se-rumit yang dibayangkan.

11 thoughts on “Alasan Rumitnya Numeralia Dalam Bahasa Prancis”

    1. Kalau itu filosofi Jawa, dari 21-29 pake akhiran -likur yang artinya lingguh kursi (duduk di kursi), filosofinya di usia tersebut manusia sudah punya profesi/kedudukan, ada pengecualian untuk 25, orang Jawa menyebutnya selawe yang maksudnya seneng-senenge lanang lan wedok (senang-senangnya laki-laki dan perempuan), menurut filosofi Jawa, usia 25 ini usia yang pas untuk menikah.

  1. Rumit juga ya. Jujur saya baru mengetahui tentang vigesimal ini. Saya kira semua bangsa di dunia menganut angka base 10. Kira – kira kalau suku di Indonesia ada juga yang menganut sistem vigesimal ini tidak ya.

  2. Mungkin karena hal ini sosok-sosok legendaris seperti Laplace dan Descartes muncul. :D

    Btw, semula saya kira cuma konjugasi aja yang rumit dari bahasa-bahasa rumpun latin. Ternyata…

  3. Waduuuuh, kalau sebut nomor telepon harus hitung kali-kali dan tambah-tambah dulu, langsung meleduk kepala saya sepertinya ๐Ÿ˜‚ apalagi pas disebut nomornya pakai bahasa Prancis, pasti saya diam dulu bisa bermenit-menit lamanya ~

    However, seru juga baca cerita soal numeralia dalam bahasa Prancis ini. Saya jadi belajar hal baru yang saya nggak tau sebelumnya. Thank you so much mas ๐Ÿ˜

  4. setiap bahasa akan punya kerumitannya (dan kemudahannya) masing-masing. tapi menarik, baru tahu soal penggunaan sistem vigesimal ini. masih untung ngga pake basis 16 alias hexadecimal.. ๐Ÿ˜†

  5. kalau ketemu orang Perancis, percakapannya akan kayak gini:
    Nomor kamu berapa?

    *diam dulu
    *berpikir keras
    *menghitung dengan jari
    *baru abis itu jawab

    hahaha ribet bener kalau belum terbiasa ya

Tinggalkan Balasan ke Anggie Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.