Santun vs To The Point

Setiap bangsa memiliki budaya yang berbeda-beda. Ada bangsa yang berbicara secara sopan dan lemah lembut, ada juga yang tegas dan to the point, ada yang perlu “pembukaan” dalam menjelaskan sesuatu, ada juga yang langsung ke topik yang diinginkan.

Perlu diingat, bahwa ketika kita ingin menyampaikan pesan, yang perlu kita perhatikan adalah budaya si penerima pesan tersebut, jika kita salah menyampaikannya, maka pesanpun tidak sampai.

Sebagai contoh, saya terbiasa dengan lingkungan Indonesia yang terkenal santun, saat saya pindah ke Rusia dan mengutarakan sesuatu dengan cara “timur”, yang ada saya selalu dimarahi, dibilang saya menghabiskan waktu dia, hahaha, atau saat saya ditawari makan dan minum, saya hanya nyengir-nyengir sambil bilang terima kasih, tentunya ini membuat yang menawari makanan bingung. Kamu mau atau tidak?

Sayangnya, sampai sekarang saya jadi “tercemar” budaya barat yang satu ini, pernah saat saya sedang pulang kampung, saya ditawari makan, dan langsung saya bilang iya, dan saat mereka bilang “mau tambah?” saya langsung bilang “Iya, mau”. Seketika situasi menjadi awkward.

Ternyata budaya santun itu lebih sulit dari yang saya bayangkan sebelumnya, terutama dalam soal rejection, kita memerlukan “intro” yang sangat baik, kalau perlu ada unsur kebohongan, agar penerima pesan tidak tersinggung, karena perasaan penerima pesanlah yang utama.

Pemilihan kata juga berperan penting, karena kita tidak mungkin bilang “Anda salah” ke atasan anda, kita bisa pakai “Mungkin sebaiknya….” atau “Anda kurang tepat”.

Saya yang masih orang Indonesia tulen-pun masih harus banyak belajar untuk lebih santun, bagaimana dengan Anda?

4 thoughts on “Santun vs To The Point”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *