Tentang Maskapai LCC dan Maskapai Reguler

Saya baru-baru ini dengar tentang menteri perhubungan yang akan menghilangkan ‘tarif murah’, dan kebijakan ini tentunya menuai banyak kontroversi 😀

Jadi gini..

Apa benar yang namanya LCC semacam AirAsia itu murah? Iya jika kita memilih untuk melakukan perjalanan terjadwal, dan tidak jika kita memilih perjalanan secara mendadak, atau perjalanan bisnis.  Kenapa begitu? Sebagai contoh, saya sering jalan-jalan, dan tentunya jalan-jalan saya terjadwal, apa yang saya bawa? Hanya tas ransel kecil, dan saya yang biasa makan di mana saja, tidak perlu makan di pesawat. Dalam kondisi itu LCC memberikan solusi atas gaya perjalanan orang miskin seperti saya.

Coba kita lihat contoh lainnya, saat ada urusan pekerjaan saya diharuskan pergi ke suatu tempat, dalam waktu 3 hari ke depan saya harus sudah berada di tempat tujuan, maka dari itu saya harus cari pesawat di pagi hari, ditambah dengan sarapan di pesawat, dan bagasi yang diperlukan, apakah dengan naik maskapai LCC saya akan dapat harga lebih murah? Tidak, harganya akan (hampir) sama dengan maskapai full service.

Lalu apakah LCC mengurangi fasilitas keselamatan? Tentu tidak, LCC memotong biaya penerbangan berdasarkan*:

  • Jumlah kursi di pesawat.
  • Jenis kertas untuk tiket dan boarding pass.
  • Biaya bagasi dan makanan yang dijual terpisah.
  • Penggunaan satu jenis pesawat dalam satu maskapai.
  • Sistem penjualan tiket.

Tentunya tidak ada satupun aspek keselamatan yang dikurangi, bahkan bisa kita lihat di maskapai manapun, perlengkapan keselamatan tidak ada satupun yang dikurangi.

Jadi menurut saya, mematok harga tiket pesawat tidak akan mempengaruhi keselamatan ataupun perizinan terbang 😉

 

* Data diambil dari presentasi ELFAA “Variations in Airport Charges”, Jan Skeels – Secretary General, Aviation Industry Group – 2nd Annual Managing Airline Operating Costs Conference.

Mengurus Visa Pelajar Rusia

Kembali postingan telat 🙂

Akhirnya entry visa saya sudah habis masa berlakunya, sudah saaatnya perpanjang visa pelajar, dan sialnya saya hampir lupa perpanjang, untung tidak sampai di deportasi.

Berhubung ini tahun pertama saya di Penza, maka ada beberapa syarat tambahan yang harus di selesaikan, berikut syarat administrasi yang diperlukan:

  • Fotokopi semua halaman paspor (hanya yang terdapat cap/stempel).
  • Terjemahan paspor dalam bahasa Rusia.
  • Fotokopi kartu migrasi.
  • Pas foto 3×4, 12 lembar.

Oia, biaya yang diperlukan untuk perpanjang visa adalah 1000 rubel ( IDR 212.934 ).

Prosesnya cukup mudah, cari bank Sberbank terdekat, bilang ke Customer Service bahwa ingin perpanjang visa pelajar, setelah pembayaran dilakukan mbak CS yang cantik akan memberikan bukti pembayaran.

Langkah berikutnya, bawa bukti pembayaran beserta seluruh syarat yang diperlukan ke kantor imigrasi kampus, berikan semua dokumen yang diperlukan, mereka kan meneliti setiap dokumen yang kita berikan, jika semua dokumen tidak ada masalah, pihak kampus akan mengambil paspor kita, dan visa jadi dalam 14 hari kerja, jangan khawatir selama tanpa paspor, kita akan diberi surat keterangan pengganti paspor 🙂

 

Repotnya Prosedur Buka Rekening Bank di Rusia

Ini kejadian satu bulan yang lalu, baru saya tulis sekarang, jangan tanya alasannya ya 😉

Pagi itu saat saya sedang di kelas, pegawai dekanat datang menghampiri saya, dia menyuruh saya membuka rekening di Bank VTB24 ( ВТБ24 ) untuk urusan biaya hidup dari Pemerintah Rusia. Kalau urusan uang tidak akan saya lewatkan kesempatan ini tentunya, saya bertanya apa saja syarat untuk membuka rekening Bank, dari dan menurut dekanat syarat yang diperlukan adalah:

  • Paspor asli
  • Dokumen asli terjemahan paspor yang di stempel oleh notaris setempat.
  • fotokopi semua halaman paspor ( versi dekanat bilang, saya harus fotokopi semua halaman paspor, termasuk yang kosong)
  • Fotokopi surat registrasi (izin tinggal)

Dokumen yang cukup keberatan bagi saya adalah dokumen asli terjemahan paspor yang di stempel notaris setempat. Biaya menerjemahkan dokumen ini sangat mahal, dan sudah saya berikan aslinya saat registrasi kampus, mosok harus saya berikan lagi untuk pembukaan rekening.

Oke, dengan modal nekat, saya siapkan persyaratan versi saya sendiri:

  • Paspor asli
  • Fotokopi terjemahan paspor 😀
  • Fotokopi semua halaman paspor, yang ada stempel saja 😀
  • Fotokopi surat registrasi

Berbekal syarat ‘bikinan sendiri’ saya coba datangi Kantor Cabang VTB24 di Jalan Moskovskii, saya disapa ramah oleh Mbak CS yang cantik, saya jelaskan maksud saya membuka rekening, saat saya bilang saya mahasiswa beasiswa pemerintah Rusia, saya dilimpahkan ke lantai dua, bagian pembukaan rekening korporat, di lantai dua, kondisinya tidak seperti Bank, berantakan, saya berikan semua berkas yang diminta dan diminta untuk kembali lagi 20 hari kemudian.

Hebatnya, dia tidak mempermasalahkan mengenai syarat yang ‘berbeda’.  20 hari kemudian saya datang ke Bank, dan bertanya, apa kartu saya sudah jadi?

Ternyata masalah terjadi, dia tidak bisa proses rekening saya karena tidak mengerti isi paspor saya

Kondisi di BankApa? Bagaimana bisa dia tidak mengerti isi paspor saya, ternyata mbak Costumer Service yang cantik dan jelita ini tidak bisa membaca huruf alfabet, dan tidak mengerti bahasa inggris yang tertulis dalam paspor saya, #doh

Oke, saya agak sedikit marah  dan menyangkal bahwa sudah menerjemahkan dokumen tersebut, dia membaca terjemahan yang saya berikan, sialnya, dia kekeuh dengan format nama saya yang tidak sesuai dengan format Rusia. Duh.. Jelas-jelas di hadapan dia adalah orang asing, masih mempertanyakan kenapa nama saya tidak sesuai dengan format mereka, di sini, saya berargumen, buat nama saya seperti format Rusia, karena nama saya sudah tiga suku kata. Akhirnya dia mengalah juga 😀

Selesai masalah? Belum! Yang terakhir adalah sistem komputer mereka tidak bisa input nomor paspor saya,  nomor paspor saya 8 digit, sedangkan input mereka disamakan dengan format paspor internal Rusia, 5 digit. Kali ini mereka tidak mau membantu karena field di komputer mereka tidak bisa ditambah sedangkan mereka harus input nomor sesuai dengan yang di paspor saya.

Sampai tahap ini , pihak bank banyak diskusi, dan menyita waktu cukup banyak, bahkan sampai hari sudah mulai gelap (FYI jam kerja Bank sampai jam 4 dan saat itu sudah musim gugur, dimana jam 3 matahari sudah terbenam), hingga akhirnya mereka memutuskan untuk memotong nomor paspor saya di komputer Bank, dengan beberapa surat pernyataan yang harus saya tandatangani.

WP_20141106_003
Akhirnya kartu  pun jadi 🙂

Setelah selesai tandatangan sana sini, akhirnya saya di beri kartu ATM (dengan kondisi nama saya susunannya salah), terakhir dia menawarkan aktivasi internet banking, saya setuju, tapi saya disuruh menulis username dan password dalam lembaran aktivasi, baru kali ini saya melihat aktivasi internet harus menulis password di lembar aktivasi, akhirnya saya tidak jadi aktivasi internet banking, ambil kartu dan kembali ke asrama.

The Theory of Everything

Saya jarang ke bioskop, kecuali filmnya cukup menarik. Sialnya film Theory of Everything ini membuat saya penasaran, terlebih lagi saya orang yang cukup mengagumi kejeniusan seorang Stephen Hawking, siapa dia? Silahkan cari tahu sendiri 🙂

Saya pernah sebelumnya menonton film  tentang biografi Stephen Hawking, dalam film yang dirilis BBC tahun 2004, di film itu diceritakan bagaimana Hawking menyelesaikan program doktornya di Universitas Cambridge. Dan ‘katanya’ dalam film yang terbaru ini diceritakan kisah cinta Hawking dengan Jane Wilde. Makin penasaran 🙂

 

 

Pengalaman isi bensin di Shell

Beberapa hari yang lalu, saya mengisi bensin mobil di Shell Jalan Sukarno Hatta. Setelah parkir kendaraan di samping pompa bensin, saya keluar dan disapa oleh seseorang trainee, dengan sopan dia menawarkan untuk mengisi bensin oktan 95, saya menolak dan menyuruhnya isi full dengan bensin super, lalu saya tinggalkan mobil menuju minimarket yang ada di tempat itu untuk membeli beberapa makanan. Dari dalam minimarket saya melihat beberapa petugas membawa pasir ke sekitar mobil saya, saat kembali ternyata handle bensin terjatuh setelah penuh dan membuat beberapa liter bensin tercecer di tanah. Saya memaklumi, dan memberikan uang ke petugas yang sedang disana, namun dia yang ternyata supervisor menolak uang saya, katanya saya mendapat bensin gratis karena kecelakaan kecil tadi. Ya, itu hari yang beruntung 😉

Seharusnya pertamina belajar dari pom bensin yang satu ini.

Sinkronisasi Kontak Ponsel dengan Google Contacts

Kontak pada ponsel memang berharga, dia tentunya digunakan untuk menyimpan sekumpulan nomor telepon kerabat di ponsel. Saya masih ingat, dulu saya selalu menyimpan seluruh kontak di SIM Card, jika ganti ponsel, kontak yang ada di SIM Card dapat dibaca pada ponsel yang baru, simpel dan efisien. Disamping itu, backup kontak pada PC sangat dianjurkan, untuk mencegah resiko hilangnya ponsel yang berakibat hilangnya seluruh data pada ponsel.

Sekarang, teknologi Cloud Computing sudah merambah pada ponsel(atau menjadi smartphone), kita dapat menyimpan kontak di server, dan dapat diakses di mana saja selama perangkat tersebut memiliki akses ke Internet. Gadget hilang? Tidak masalah, kontak kita tidak akan hilang, 🙂 selain itu kita juga dapat sinkronisasi kontak antara ponsel satu dengan ponsel lainnya. Berikut ini akan saya jelaskan cara Sinkronisasi Kontak dengan Google Contacts di tiga device(Blackberry OS, Android, dan iOS)

Continue reading Sinkronisasi Kontak Ponsel dengan Google Contacts

Toshiba NB 520

Disclaimer: Tulisan yang saya buat kali ini bukan merupakan paid review, ataupun sejenisnya :p

 

Hampir 2 tahun notebook saya Acer Aspire Timeline 3810T menemani kemana saya pergi. Mulai dari rumah, berangkat ke kampus, ke emol, sampai ke rumah lagi, komputer jinjing kesayangan saya itu selalu ada di tas saya hampir setiap hari saya gunakan.

Sayangnya makin kesini, saya makin bragajulan alias sok sibuk, barang bawaan saya kian bertambah, dulu di tas saya hanya ada laptop dan beberapa buku dan alat tulis saja, sekarang di tas saya sudah ada beberapa barang dimulai dari laptop, sekumpulan buku tulis, buku cerita, bahkan kamus yang setebal dosa ada di tas saya. Tentunya menambah berat dosa bawaan yang saya pikul.

Maka dari itulah, saya mempertimbangkan untuk membeli benda yang namanya netbook. Sejatinya, saya tidak mencari netbook yang macem-macem, yang penting bisa ngetik, sedikit coding, dan presentasi. Oia, ketahanan batere juga merupakan prioritas utama, mengingat wilayah tempat saya menimba ilmu sering byar pet.

Pilih sana pilih sini akhirnya jatuhlah pilihan saya kepada netbook biru imut nan lucu Toshiba NB 520.

 

 

Menurut yang jual, netbook kecil ini bisa bertahan sampai 10 jam, setelah saya coba, netbook ini bisa bertahan 7-8 jam untuk penggunaan word processing, dan presentation, dalam kondisi Wifi tidak aktif. Untuk penggunaan browsing, chatting dan streaming netbook ini bisa bertahan 6-7 jam, yang cukup boros adalah saat aktivitas browsing menggunakan modem EV-DO saya, komputer ini hanya mampu bertahan 5 jam lebih dikit 🙁 tapi menurut saya masih dalam tahap wajar. Prosesor yang digunakan adalah Intel Atom N2800 Duwal Core 1.86GHz dengan RAM 2GB. Sayangnya proses booting terasa agak lama 🙁

Layar dari netbook ini sudah menggunakan teknologi LED 10.1 dengan resolusi 1024×600. Cukup jernih dan cerah walau saya kadang harus menggulung layar sana sini saat browsing.

Netbook ini juga tidak berat, hanya 1 koma sekian kilo, tentunya tanpa piranti optikal. Port yang tersedia cukup standar, seperti USB 3 biji, VGA Out, Ethernet, Card Reader, jack stereo, dan Kengsington Lock, kalau-kalau anda mau gembok netbook ini di parkiran sepeda 😉

Oia, yang hebat dari notebook ini adalah fasilitas Sleep and Charge, fasilitas ini memungkinkan kita melakukan charging peralatan kita yang berbasis USB melalui port USB netbook ini walau dalam kondisi netbook mati. Tinggal hubungkan peralatan yang akan dicharge ke port USB sebelah kiri, dan walla, perangkat itu akan menghisap batere netbook dan melakukan aktivitas charging. Selain itu, ada juga fasilitas Sleep and Music, fasilitas ini memungkinkan kita dapat menggunakan speaker harman/kardon yang ada di netbook untuk digunakan sebagai ‘speaker eksternal’ perangkat lain, tentunya bisa digunakan walau dalam kondisi netbook mati ;), tinggal hubungkan iPod atau MP3 player ke jack audio saja 🙂

Kekurangan? Tentu ada 😉 hal yang sedikit saya kurang suka adalah tata letak keyboard dan speakernya, tombol “~” berada di samping tombol “alt” membuat saya sering salah pencet saat hendak menekan kombinasi “alt+xxx” dan posisi speaker ada tepat dimana tangan kita mendarat saat melakukan aktivitas mengetik, itu membuat suara yang keluar dari speaker tertahan tangan, dan satu lagi, yang ini sebenarnya  saya tidak suka dari OS-nya Windows 7 Starter.. Tidak bisa ganti wallpaper 🙁

 

Sisanya netbook ini pas buat menemani saya jalan-jalan kesana kemari 😉 dan netbook ini bisa ditebus seharga sekitar US$ 320

KTP… E

Para pengunjung, sudah ada yang tahu apa itu e-KTP atau KTP Elektronik? Kalu belum, silahkan caritahu informasinya di Google. Kalau kata aku sih, KTP Elektronik itu tidak ubahnya KTP biasa, hanya ditambah informasi biometrik dari pemegang KTP tersebut, dan ada microchip seperti di beberapa kartu kredit(dan bahkan beberapa kartu debit terbaru sudah menggunakan chip), selanjutnya aku juga belum tahu, karena sampai saat ini kota dimana tempat aku tinggal belum ada migrasi ke KTP berjenis elektronik ini 🙁

ada tulisan ini aku tidak mau banyak-banyak menceritakan soal teknisnya, cuma ingin sedikit berceloteh soal penamaan kartu identitas berbasis elektronik ini, pertanyaan yang ada di benak saya, kenapa namanya e-KTP?

Continue reading KTP… E

Selamat Ulang Tahun

Dengan ini saya mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” untuk siapapun yang pernah lahir di tanggal 29 Februari, tanggal yang hanya ada 4 tahun sekali.

Semoga diberikan yang terbaik olehNya. Dengan tidak lupa memberikan jatah traktiran kepada saya

Btw, saya sendiri baru sadar kalau ini postingan tanggal 29 Februari pertama dalam blog ini. 😀

Bermain dengan nDrive 11 di Samsung Galaxy Y

Well, saya katanya orang Bandung, tapi, saya memiliki kelemahan yang memalukan bagi orang Bandung, yaitu tidak hafal dengan jalanan yang ada di Bandung, entah mengapa. Contohnya, beberapa hari yang lalu saya berangkat dari rumah hendak ke daerah Salman, ITB, sialnya saya menyempatkan diri untuk muter-muter dulu di daerah Pasteur, bertanya sana dan sini, hingga 3 jam kemudian akhirnya saya berada di jalan yang benar 😀

Nah, orang ndeso seperti saya ini butuh perangkat yang namanya GPS, tapi, namanya mahasiswa bragajulan, mencari device GPS yang murah(sukur-sukur gratis), akhirnya saya memberdayakan ponsel Android mumer bin asbun saya, Samsung Galaxy Y yang sudah memiliki hardware GPS terintegrasi dan aplikasi pemandu jalan nDrive 11.

Aplikasi nDrive for Android ini bisa kita beli dengan harga EUR 29.99 lengkap dengan peta Indonesia dan Filipina, berhubung orang Indonesia banyak akal, saya bisa mendapatkan aplikasi ini lengkap dengan peta Indonesia, Singapore, dan Malaysia seharga cendol dan rate, thanks gan :))

 

 

 

 

 

Kalau kita perhatikan, interface dari nDrive ini cukup user friendly, semua icon dibuat dalam ukuran besar(berguna untuk menghindari kesalahan tap), dan menu dibuat sangat lengkap namun sederhana, saya sendiri bahkan dapat mengoperasikan aplikasi ini cukup dengan satu tangan(kecuali mengetik) saat mengemudi dengan kecepatan sangat rendah.

 

 

 

 

 

Sama seperti device GPS lainnya, nDrive ini bisa memandu kita sampai ke tempat tujuan, ciamiknya, beberapa lokasi g403L penting di Bandung sudah ada dalam peta yang berukuran 100MB ini, dan rutenya bisa kita pilih, ada 3 pilihan, fastest, shortest, dan pedestrian mode. Sayangnya, dalam kondisi jalan di Bandung, ketiga pilihan ini tidak ada bedanya :p

Oia, secara default, panduan yang diberikan aplikasi ini diucapkan oleh mbak-mbak dalam Bahasa Inggris, tidak seperti device GPS yang lain, aplikasi ini tidak begitu cerewet, memang, dia mengingatkan beberapa ratus meter sebelumnya jika rute yang ditempuh mengharuskan kita berbelok ke arah tertentu, tapi, jika kita melanggar rute yang dia berikan, dia hanya diam sambil melakukan “recalculating”, sesekali menyuruh kita memutar balik :))

Bagaimana dengan penempatannya? Sebenarnya banyak yang jual dudukannya, tapi berhubung saya males beli terlalu kreatif, awalnya saya simpan di panel speedometer seperti ini

 

 

 

 

 

 

 

 

Sayangnya, penggunaan hardware GPS terlalu lama membuat ponsel saya mengeluarkan panas yang berlebih, hingga akhirnya saya pindahkan ke panel dashboard seperti ini

 

 

 

 

 

 

 

 

Lumayan, dengan bantuan AC, ponsel ga terlalu panas 🙂

Nothing But Anything