Isih penak jamanku toh – Russian version

Note: Sebenarnya ini kejadian beberapa bulan yang lalu, hanya saja, saya selalu lupa untuk menuliskannya, baik di blog ataupun catatan sendiri.

Saat itu, saya beserta teman Arab saya pergi ke supermarket untuk belanja sembako, maklum, saya memang sering nginep di apartemenny, karena sudah kemaleman, akhirnya kita putuskan untuk menyewa taksi, menggunakan layanan RUTaxi (semacam Uber versi Rusia).

Selang beberapa menit kemudian, muncul notifikasi dari RUTaxi yang kurang lebih berbunyi

Mobil Mercedes-Benz S350 warna hitam dengan plat nomor O 828 XY, menunggu anda, silahkan keluar gedung

Bagi saya ini seperti ketiban durian, saya biasa membayar taxi sebesar 150 rubel dengan mobil rusia budug, kali ini dengan Mercedez, tentunya dengan harga yang sama 😀

Singkat kata, kami masuk ke mobil hitam tersebut, tentunya duduk di belakang sedan S-Class rasanya berbeda dengan duduk di belakang Lada Kalina :p , di tengah perjalanan terjadilah percakapan berikut ini:

“Kalian dari mana, nduk? Selesai belanja?” Tanya supir

“Iya, belanja sembako, kemaleman, jadi kita pesan taksi saja” jawab saya singkat, sambil lirik teman Arab saya yang sudah tertidur lelap karena kelelahan.

“Kalian bayar berapa untuk belanjaan itu? Mahal? itu sembako bisa untuk berapa lama” supir kembali bertanya sambil mematikan radio, tampaknya dia lebih senang bicara daripada mendengarkan radio.

“Well, 1900 rubel, ini paling cuma seminggu” jawab saya singkat, berharap dia tidak melanjutkan pembicaraan karena saya sudah cukup lelah.

Nduk… Itu mahal, sekarang semuanya mahal, bahkan dengan duit segitu saya ga bisa bikin ni mobil full tank…”

Baru saja saya mau membuka mulut, dia mulai nyerocos.

Nduk.. Kamu tahu tidak? Jaman Uni Soviet itu dulu apa-apa murah, bensin aja cuma 20 kopeek per liter, sembako murah, semua tersedia, tinggal antri aja, semua kebagian”

Saya masih melongo, belum sempat bicara, dia kembali nyerocos.

“Itu gara-gara si Gorbachov sialan, dia perusak sistem, negara ini berubah total, apa-apa mahal, bensin makin meroket, saya ini kangen jaman Uni Soviet nduk.. ”

Kali ini saya sudah mulai tidak melongo lagi, tapi sudah senyum kecut, sambil berkata

“Anda yakin? Jaman Uni Soviet ga ada mobil ini loh, dulu semua sama rata sama rasa, berbeda dengan kapitalis, siapa kuat, dia menang, siapa tidak kuat, dia akan tergilas, dan saya rasa anda menang”

“Iya, sih nduk, saya ini sebenarnya punya Event Organizer dan saya juga menyewakan beberapa mobil mewah, ini narik taksi hanya kalau sedang santai aja” jawab supir.

“Tapi tunggu dulu nduk” lanjutnya, “coba lihat apartemen Krushovka yang ada di sisi kanan, mereka tinggal hampir di bawah garis kemiskinan, mau makan susah, kebanyakan udah pada tua, hidup dari pensiun sudah tidak cukup, bahkan beberapa diantaranya tidak ada pemanas, mereka kedinginan saat musim dingin” racaunya sambil menaikkan suhu kabin menjadi 21C karena suhu di luar mobil mencapai -15C.

“Ya sudah, saya harap Putin merubah sistem negara ini menjadi jaman Uni Soviet lagi, sama rata, anda ga akan bisa pakai mobil ini lagi, beres toh?” Jawab saya yang sudah ngantuk.

“Waduh nduk, susah, saya sudah terbiasa dengan kondisi sekarang, saya punya dua apartemen, mobil banyak” Jawab supir dengan santai.

“Jadi sampeyan iki pengen balik ke jaman dulu atau sekarang? Konsisten donk” Jawab saya yang sudah agak sebel dengan supir ini karena berhasil membuat saya tidak mengantuk.

“Waah.. Ga tau saya nduk, pusing saya juga” Jawab supir sambil cengengesan.

Dari situ dia cengengesan, sudah males saya dengarnya. :/

Akhirnya sekitar 20 menit, taxi sudah berada di depan pintu masuk apartemen teman Arab saya, kami membayar biaya taksi dan pergi melangkah, tapi sebelumnya dia bilang

Nduk, gini deh, kalau mau egois, saya lebih memilih jaman sekarang, tapi kalau mau berpikir sosialis dan hati nurani, saya lebih pilih kembali ke jamn Uni Soviet, Terima kasih sudah mau mendengarkan saya nduk“.

Kumaha sia weh” jawab saya sambil berlalu.

Sampai rumah, saya teringat, kalau di Indonesia, hal ini juga terjadi, banyak orang ingin kembali ke jaman dulu (baca: Orde Baru), apa-apa murah,

Tapi sudahlah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *